Apa Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya?

By Nasehat Islam Last Updated On 16 October 2023 1 Comment
makna kemerdekaan

Di tengah semarak perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus, mari kita merenung sejenak untuk memahami makna kemerdekaan yang sesungguhnya bagi seorang muslim. Kita tentunya sering mendengar istilah yang terkait dengan kemerdekaan atau kebebasan misalnya “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa”, “Manusia memiliki hak dasar hidup yang sama”, “Kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain”, dan lain sebagainya. Lalu apa sebenarnya makna kemerdekaan itu, benarkah kita memiliki kemerdekaan? 

Dialog Alloh SWT dan Manusia

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu hakikat kehidupan dengan iman, sebagaimana tercantum dalam al-Quran QS al-Ahzab 72:

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh”

Ayat diatas menerangkan bahwa Alloh SWT terlebih dahulu menawarkan ‘amanah’ kehidupan ini kepada langit, bumi, dan gunung. Jika amanah ini dijalankan dengan biak maka ia akan mendapat imbalan (surga), namun sebaliknya jika dilanggar maka akan mendapat siksaan (neraka).

Langit, bumi dan gunung semua menolak amanah ini, akibatnya mereka tidak punya pilihan dalam eksistensi hidupnya. Matahari sepanjang waktu terbit di timur dan terbenam di barat, bumi berputar dan revolusi dengan arah dan kecepatan yang tetap, begitu juga gunung berdiam diri di suatu tempat.

Dari sudut pandang manusia, penolakan amanah ini tentunya sangat menguntungkan. Seandainya langit, bumi dan gunung sanggup menerima amanah, maka mereka akan punya pilihan dan keinginan masing-masing misalnya matahari terbit dari utara, bumi berputar lebih cepat, gunung berjalan dan meletus, dan lain sebagainya. Karena semua menolaknya, maka amanah itu ditawarkan Alloh SWT kepada manusia dan manusia berani menerima amanah ini. Konsekwensi dari penerimaan amanah ini, manusia dimuliakan posisinya dan beri pilihan melalui akal pikiran dan agama.

Kita tentunya bertanya, kok manusia nekad menerima amanah ini? Coba kalau tidak berani, kan kita tidak punya resiko hidup?. Jawabannya, kalau seandainya kita tidak sanggup menerima amanah itu, tentunya kita tidak akan hidup di dunia ini. Saat dalam kandungan, kita berasal dari sperma pilihan yang berkompetisi dari jutaan sperma yang berhasil membuahi sel telur dan akhirnya bisa survive di dunia. Sementara jutaan sperma yang lain gugur untuk mendapatkan kehidupan.

Lihat juga  Aqidah sebagai Induknya Ilmu Fiqih

Di akhir ayat di atas disebutkan bahwa إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا  “Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh”. Kenapa Alloh menyatakan hal ini dan siapa sesungguhnya yang lalim dan bodoh itu?. Jawabannya mereka adalah yang menyalahgunakan amanah itu. Jadi hidup ini sesungguhnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kalau dilaksanakan dengan baik masuk surga, dan kalau sebaliknya masuk neraka.

Lalu apa amanah itu? amanah itu adalah agama, dan agama itu adalah islam. Islam telah dirancang oleh Alloh SWT sesuai dengan fitrah manusia. Setiap manusia terlahir dalam fitrah (Islam) dan orang tuanyalah yang menjadikan anak itu nasroni dan yahudi. Jadi cara cerdas untuk menjalankan amanah itu ialah dengan menjalankan syariat islam. 

Kemerdekaan dan Kebebasan Memilih

Dalam menjalankan amanah itu, kita diberi kemerdekaan atau kebebasan memilih dua jalan dengan tanpa paksaan, yakni jalan ke surga atau jalan ke neraka. Manusia diberi kemerdekaan untuk memilih muslim atau kafir, patuh atau maksiat, benar atau salah, haram atau halal. Setiap pilihan sudah diterangkan dengan jelas beserta resikonya. Inilah makna kemerdekaan untuk menentukan pilihan.

Tentu saja kita harus memilih pilihan ini dengan cerdas. Seorang pujangga berkata, “Ketika engkau lahir engkau menangis dan orang di sekelilingmu tersenyum. Maka tersenyumlah saat engkau mati dan orang lain menangis karena kehilangan anda”.

Kesaksian Diri

Selain memahami dialog mengenai amanah di atas, kita perhatikan juga ayat lain dalam Al-Quran yang menerangkan dialog antara manusia dengan Alloh sebelum Alloh meniupkan ruh kepada manusia. Manusia telah berjanji (bersaksi) bahwa robb itu adalah Alloh SWT.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS. al-A’raf 172)

Lihat juga  Bagaimana cara ber-Akhlak Islam?

Yang harus kita pelajari dari dua kejadian di atas adalah  bagaimana kita menjalani kehidupan ini dengan benar agar bisa menjalani amanah secara maksimal dan tepat menentukan pilihan (baik buruk, benar salah, surga dan neraka). Karena setiap pilihan memiliki resiko sendiri-sendiri. 

Kematian

Diantara resiko yang sudah pasti kita hadapi dalam hidup ini adalah kematian. Siap tidak siap kita pasti akan mati. Sehingga kita harus menyiapkan rencana untuk menghadapinya. Batas waktu kematian ini menentukan berapa lama kita memikul amanah, sehingga kita bisa memilih dengan cerdas agar bisa mempertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Rosululloh ﷺ dalam hadits menyatakan bahwa rata-rata umur umatnya itu antara 60-70 tahun. Sementara itu Alloh berfirman dalam QS al-Hajj 47,

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِٱلْعَذَابِ وَلَن يُخْلِفَ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

” …Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.

Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Kalau seandainya hidup kita di dunia ini 70 tahun, maka sama dengan 100 menit. Dan seandainya akhirat itu 1000 hari, maka hidup kita ini cuma 6 detik. Jadi sungguh sangat singkat periode hidup kita ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. 

Jadi apakah kita mau mengorbankan kehidupan akhirat hanya untuk kepuasan di dunia yang cuma 6 detik?  Hidup ini sungguh sebentar dan hakikatnya bukanlah kemerdekaan atau kebebasan, namun amanah yang  harus dipertanggungjawabkan. Kalau kita mau selamat, maka ikutilah aturan mainnya yang semua jawabannya ada dalam Al-Quran. Kembali ke Islam, karena Islam telah dirancang sesuai dengan fitrah manusia.

++++++

Dikutip dari Pengajian Ahad, 17 Agustus 2009, Mesjid Darussalam Kota Wisata

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ++Admal Syayid++

One thought on “Apa Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *