Kamis, 22 Feb 2024
Akhlaq Islam

Bagaimana Menyikapi Fenomena Alam?

Menyikapi Fenomena Alam

Ketika terjadi fenomena alam gerhana matahari, Nabi ﷺ melaksanakan Sholat Gerhana. Nabi bersabda ﷺ:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)

Penegasan ini diucapkan oleh nabi ﷺ untuk menyikapi kejadian meninggalnya putra beliau yang bertepatan dengan terjadinya gerhana. Beliau menegaskan, tidak ada keterkaitan antara kematian putranya dengan gerhana, sebaliknya menjadi sarana untuk mengingat kekuasaan Alloh SWT.

Dalam menyikapi fenomena alam perlu pendekatan imaniah dalam diri kita, yakni semakin merasa takut kepada Alloh SWT kalau seandainya azab dan siksa Alloh SWT datang menimpa diri kita. Nabi Muhammad ﷺ apabila mendapati awan pekat dan angin, hati beliau kelihatannya tidak tenang. Beliau jalan bolak balik keluar rumah.

Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa jika langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah Baginda Nabi Muhammad ﷺ —yang biasanya memancarkan cahaya–akan terlihat pucat-pasi. Sebab takut kepada Allah SWT. Beliau lalu keluar, lalu masuk ke masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa, “Ya Allah…aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dia kandung dan keburukan apa saja yang dia bawa.”

Aisyah ra. bertanya, “Ya Rasulullah, jika langit mendung, semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun, mengapa engkau tampak ketakutan?

Nabi ﷺ menjawab, “Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum ‘Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun. Padahal Allah kemudian mendatangkan azab atas mereka.” (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Namun tatkala yang turun adalah hujan, senanglah hati Nabi Muhammad ﷺ, sehingga beliau mengajarkan kepada kita jika ada hembusan angin atau turun hujan, berdo’alah dan memohonlah kepada Alloh SWT untuk kebaikan dan perlindungan dari keburukan.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaklah selalu mawas diri dan jangan ada perasaan uzub atau sombong. Sebaliknya perbanyaklah memohon ampunan kepada Alloh SWT (istighfar), karena bencana selalu datang saat kondisi kita belum siap, misalnya datangnya tsunami, gempa bumi, longsor, dan lain-lain saat kita sedang tidur di malam hari atau bermain di siang hari.

Perbaikilah diri dan meminta ampunlah (istighfar) kepada Alloh SWT, karena pada dasarnya segala fenomena alam berupa kerusakan yang terjadi karena ulah diri kita sendiri. Telah tampak kerusakan akibat ulah manusia, agar menusia ingat kepada Alloh SWT dan memohon ampun. Sebagaimana ditegaskan pula dalam sebuah Hadits Qudsi,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai hamba-hambaKu, sungguh setiap orang dari kalian salah di malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa semuanya. Maka beristighfarlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian.

++++++

Khutbah Jum’at 1 Mei 2009 di Mesjid Toyota Astra Motor

Tags:fenomena alamminta ampunsikap terhadap bencana


Baca Juga

Komentar

One thought on “Bagaimana Menyikapi Fenomena Alam?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *