Kamis, 22 Feb 2024
Akhlaq Islam

Cerita Tentang Kesabaran Ummu Sulaim

cerita kesabaran

Bicara tentang kesabaran penulis teringat pada sebuah cerita yang sering di dengar dalam beberapa pengajian atau ceramah sejak kecil. Cerita ini diambil dari sebuah hadits nabi ﷺ yang shoheh, berbicara mengenai kesabaran seorang perempuan yang hidup di zaman nabi bernama Ummu Sulaim.

Konon di zaman itu, hidup suami istri dalam keluarga yang bahagia. Sang suami bernama Abu Thalhah, sementara sang istri bernama Ummu Sulaim. Keluarga ini baru saja dikaruniani satu orang anak yang bernama Abu Umair. Ibu dan bapak mana yang tidak sayang dan cinta pada anak satu-satunya. Abu Thalhah bekerja sebagai pedagang yang selalu pulang larut malam. Saat bekerja, ia selalu mengenang anaknya. Kalau dilihat ada makanan atau mainan, pasti ia membeli untuk anak tercintanya itu.  

Suatu sore hari ketika sang suami masih bekerja, Abu Umair terkena sakit panas didampingi oleh sang ibu. Sakit panas yang dialaminya, mengakibatkan sore itu Abu Umair meninggal dunia. Ibu mana yang tidak shock saat anak yang masih lucu bermain, tiba-tiba meninggal dunia di hadapannya. Pasti secara naluri ia akan tak sadarkan diri dan menangis histeris. Namun, saat Ummu Sulaim menyaksikan anaknya meninggal, ucapan yang keluar dari mulutnya ialah, “Inna lillahi wainna ilaihi roojiun”

Bergegas Ummu Sulaim memandikan, mengkafani, menutupkan pakaian serta merebahkan jenazah anaknya di kamar tidur. Lantas ia mengatakan pada tetangga terdekatnya, “Jangan ada yang memberitahu kejadian ini ke suamiku, kecuali aku sendiri yang akan menyampaikannya”.

Menjelang kepulangan sang suami di waktu Isya, Ummu Sulaim memasak makanan yang enak dan spesial untuk suaminya. Diapun mandi, berdandan dan memakai wangi-wangian seperti tidak terjadi apa-apa di rumah itu. Saat sang suami datang mengetuk pintu rumah dengan ucapan Assalamu’alaikum, sang istri menyambut dan membukakan pintu rumah.

Setelah pintu terbuka, suami bertanya, “Di mana anak kita?”. Dengan tegar dan penuh kesabaran Ummu Sulaim pun menjawab, “Abu Ummair sudah tidur, biarkan ia tidur dengan tenang dan besok kita akan ketemu dengannya“. Lalu makanlah mereka berdua dilanjutkan dengan sholat isya dan tidur bersama sebagai suami istri.

Keesokan hari, Ummu Sulaim bertanya kepada sang suami, “Wahai suamiku, seandainya kita meminjam alat dapur tetangga, bagaimana kalau alat itu sekarang diminta pemiliknya?”, Sang suami menjawab,”Sampaikan salam kepadanya dan ucapkan terima kasih atas kebaikannya”. Lalu sang istri melanjutkan pertanyaannya,”Wahai suamiku, bagaimana kalau seandainya pinjaman itu dari Alloh, dan kemarin sore sudah diminta olehNya?, Anak kesayangan kita Abu Umair kemarin sore telah meninggal diambil oleh Alloh SWT. Aku sudah memandikan dan mengkafaninya, sekarang ia ada di kamar itu”.

Mendengar ucapan istrinya itu, Abu Thalhah marah dan kemudian berangkat ke rosululloh ﷺ menceritakan kejadian yang baru dialaminya itu. Lalu bagaimana respon nabi ﷺ. Ternyata nabi ﷺ mendoakan dia dan istrinya, Semoga Alloh memberkahi malam kamu berdua seperti layaknya pengantin baru“. 

Berkat do’a nabi ﷺ itu, beberapa waktu kemudian suami istri ini melahirlah anak berjumlah 9 orang, adik-adik dari Abu Umair, dan semuanya hafal al-Quran.

Begitulah cerita tauladan tentang kesabaran atas musibah yang diterima dengan keikhlasan karena Alloh SWT, dan Alloh SWT yang akan memberi pahalanya.

Sumber Hadits:

Hadis Shohih yang termuat dalam kitab رياض الصالحين karya Imam Nawawi berikut:
 
مات ابن لأبي طاحة من أم سليم. فقالت لأهلها : لا تحدثوا أبا طاحة بابنه حتى أكون أنا أحدثه, فجاء فقربت إليه عشاء فأكل وشرب, ثم تصنعت له أحسن ما كانت تصنع قبل ذلك, فوقع بها. فلما أن رأت أنه قد شبع وأصاب منها قالت : يا أبا طاحة, أرأيت لو أن قوما اعاروا عاريتهم أهل بيت فطلبوا عاريتهم, ألهم أن يمنعوهم ؟ قال : لا. فقالت : فاحتسب ابنك. قال فغضب, ثم قال : تركتني حتى إذا تلطخت ثم أخبرتني بابني ؟ فانطلق حتى أتى رسول الله فأخبره بما كان,فقال رسول الله بارك الله في ليلتكما“,قال فحملت.
 

Anak laki-laki dari pasangan Abu Tholhah dan Ummu Sulaim meninggal dunia. Lantas Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan kalian beritahu Abu Tholhah tentang putranya sampai aku sendiri yang memberitahunya”. Saat Abu Tholhah pulang, Ummu Sulaim pun menyuguhkan makan malam untuknya, lalu dia pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berdandan secantik mungkin untuk suaminya, padahal sebelumnya ia tidak pernah berdandan seperti itu, hingga Abu Tholhah tertarik dan menyetubuhinya.

Setelah melihat Abu Tholhah kenyang dan mendapat kenikmatan darinya, Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Abu Tholhah, bagaimana pendapatmu jika ada sekelompok orang yang meminjamkan barang-barang mereka pada suatu keluarga, lalu mereka meminta kembali pinjaman tersebut, apakah keluarga itu berhak menolak mereka? “Tidak” Jawab Abu Tholhah. Maka Ummu Sulaim berkata, “Kalau begitu relakanlah putramu”.

Serta merta Abu Tholhah marah seraya berseru, “Mengapa kamu biarkan aku dalam kedaan penuh kotoran (karena persetubuhan), dan baru kemudian kamu memberitahu tentang kematian putra kita?, Abu Tholhah pun mendatangi Rosulullah ﷺ dan memberitahu apa yang terjadi. Lalu Rosul ﷺ bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua (saat dilakukan hubungan intim). Selanjutnya Ummu Sulaim mengandung

++++++

Dikutip dari Pengajian hari Sabtu, 8 Agustus 2009, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber Ust. Drs. H. Aseph Aonuddin M.Si)

Tags:artikel islamkesabarannasehat kesabaransabar


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *