Keistimewaan Al-Aqso dan Palestina

By Nasehat Islam Last Updated On 03 June 2024 0 Comments
Kawasan Mesjid al-Aqso
Kawasan Mesjid al-Aqso

Dalam keyakinan (aqidah) Islam, mesjid al-Aqso dan Palestina sangatlah istimewa. Ia diterangkan langsung dalam beberapa ayat al-Quran dan sabda nabi Muhammad ﷺ. Semua mazhab fiqh dan organisasi Islam sepakat tentang keistimewaan ini. Sehingga soal al-Aqso dan Palestina tidak akan pernah ‘kering’ dikaji, dibela dan disuarakan oleh umat Islam seluruh dunia sampai mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.

Untuk itu, mari kita pelajari keistimewaan al-Aqso dan Palestina ini merujuk kepada ayat al-Quran dan sabda nabi ﷺ, agar kita memiliki pemahaman yang lebih baik dan menjadi bagian dalam upaya pembebasan di saat kini dan mendatang.

Kompleks Mesjidil Aqso / Baitul Maqdis / Al-Quds

Kawasan masjid al-Aqso berada pada lahan seluas 14.4 Ha. Di dalamnya ada beberapa bagian / bangunan yakni masjid al-Buraq, Kubah Shakhrah, Masjid al-Qibly, Musallah Marwani, dll.

Kompleks Mesjid al-Aqso

Pada lahan seluas inilah pernah menjadi tempat sholat dan sujud arwah para nabi & rosul yang di-imami oleh nabi Muhammad ﷺ. Peradaban manusia berawal dan berakhir dari al-Aqso sejak nabi Adam sampai hari kiamat bahkan sampai padang mahsyar. Hal inilah menjadikan al-Aqso sebagai tempat mulia yang tidak bisa diabaikan.

Keistimewaan Mesjid al-Aqso

Keistimewaan masjid al-Aqso sebagaimana diterangkan dalam al-Quran dan hadits adalah sebagai berikut:

1. Disatukan dalam Satu Ayat

Ada dua mesjid yang dikaitkan dalam satu ayat yakni dari mesjid Haram ke Mesjid al-Aqso. Hal ini menunjukkan keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Menyepelekan salah satunya berarti mengabaikan yang lainnya. Bahkan Alloh menamakan langsung kedua masjid tersebut.

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Isra 1).

Fakta saat ini, dari jutaan orang yang berangkat haji dan umrah ke Mekkah & Madinah masih sangat kecil persentasinya yang pergi ke Mesjid al-Aqso. Ini menunjukkan belum berimbangnya perhatian umat islam kepada al-Aqso. Alasannya karena saat ini masih dalam cengkraman Zionis. Sehingga menjadi kewajiban umat islam di seluruh dunia untuk membebaskannya agar kita bisa leluasa mendatanginya.

2. Tempat Ibadah Pertama di Muka Bumi

Tempat ibadah yang pertama dibangun untuk manusia adalah baitullah (ka’bah) di Mekkah. Ia diberkahi dan menjadi petunjuk semua manusia. Fondasinya dibangun oleh nabi Adam as yang 40 tahun kemudian ia membangun juga fondasi masjid al-Aqso.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS ali Imran 96)

عَنْ أبي ذر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلَّ فَهُوَ مَسْجِدُ

Dari Abu Dzar, ia berkata, ‘Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, masjid mana yang pertama kali dibangun di bumi?’ Rasulullah menjawab, Masjidil haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian yang mana lagi?’ Beliau menjawab, ‘Masjid Al Aqsa.’ Aku bertanya lagi, ‘Selang berapa lama keduanya dibangun?’ Beliau menjawab, ‘40 tahun, namun di mana pun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah, tempat itu dapat menjadi masjid bagimu.” (HR. Muslim).

3. Kiblat Pertama Umat Muslim

Kiblat pertama umat islam adalah mesjid al-Aqso. Saat nabi ﷺ masih di Mekkah, beliau berkiblat ke mesjid al-Aqso sekaligus menghadap ka’bah, karena arahnya sejajar. Namun saat di Medinah, beliau berkiblat ke mesjid al-Aqso dan membelakangi Ka’bah.

Nabi ﷺ menengadahkan wajahnya ke langit karena ‘merasa’ harus membelakangi Ka’bah. Maka turunlah ayat al-Baqoroh 142-144, yang menerangkan perpindahan kiblat dari mesjid al-Aqso ke mesjid Haram. Dan di saat itu, orang yahudi menentangnya.

سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (QS al-Baqoroh 142)

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS al-Baqoroh 143)

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Lihat juga  Mengambil Hikmah Isra dan Mi’raj

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Baqoroh 144)

4. Anjuran ber-Ziarah ke Mesjid al-Aqso

Nabi ﷺ menganjurkan umat islam berziarah ketiga tempat. Yakni Mesjid Haram di Makkah (haji & umrah), Mesjid Nabawi di Madinah (ziarah makam nabi, raudhah dan makam para sahabat) dan Mesjid al-Aqso di Baitul Maqdis Palestina.

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ، إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِي  

Jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjid haram, Masjid Aqsa, dan Masjidku (Masjid Nabawi),” (HR Bukhari).

Mesjid Haram, Mesjid Nabawi, Mesjid al-Aqso
5. Keutamaan Shalat di Mesjid al-Aqso

Shalat di ketiga mesjid di atas sangatlah istimewa. Pahala shalat di mesjid Haram adalah 100.000 kali dan di mesjid Nabawi 1000 kali. Sementara shalat di mesjid al-Aqso nabi ﷺ menyebutkannya ada 3 level yakni 250.000 kali, 500.000 kali dan 1000 kali. Juga diterangkan, bahwa sholat di mesjid al-Aqso bisa membersihkan diri dari dosa seperti terlahir kembali.

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ

وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Sesunggunya Maimunah maula Nabi berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain”. (HR Ahmad).

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثَةً سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ

وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوتِيَهُ وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوتِيَهُ وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لَا يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فِيهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (فِيْ رِوَايَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Dawud membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada Allah swt tiga perkara. (Yaitu), meminta kepada Allah swt agar (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan meminta kepada Allah swt dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ; serta memohon kepada Allah swt bila selesai membangun masjid, agar tidak ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu, kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya, seperti hari kelahirannya” (Dalam riwayat lain berbunyi : Lalu Nabi ﷺ berkata : “Adapun yang dua, maka telah diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun dikabulkan)” (HR An-Nasa’i)

Keistimewaan Palestina (Syam)

Seperti halnya mesjid al-Aqso, kawasan Palestina (Syam) juga sangat istimewa dalam aqidah umat islam. Keistimewaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Palestina Negeri Penuh Berkah

Beberapa ayat al-Quran menjelaskan bahwa negeri Palestina penuh dengan berkah. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa keberkahan tersebut meliputi aspek fisik dan ruhaniah. Secara fisik, wilayah Palestina memiliki tanah yang subur dan penduduk yang ramah. Sementara berkah ruhaniah, wilayah Palestina adalah tempat turunnya para nabi dan rosul.

Berikut beberapa ayat dalam al-Quran yang merujuk Palestina sebagai tanah yang berkah:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Isra 1).

وَأَوْرَثْنَا ٱلْقَوْمَ ٱلَّذِينَ كَانُوا۟ يُسْتَضْعَفُونَ مَشَٰرِقَ ٱلْأَرْضِ وَمَغَٰرِبَهَا ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُوا۟ ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُۥ وَمَا كَانُوا۟ يَعْرِشُونَ

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”(QS al-A’raf 137)

وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia” (QS al-Anbiya 71)

وَلِسُلَيْمَٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِى بِأَمْرِهِۦٓ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَىْءٍ عَٰلِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al-Anbiya 81)

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ ٱلْقُرَى ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَٰهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا ٱلسَّيْرَ ۖ سِيرُوا۟ فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman”. (QS Saba 18)

2. Palestine Adalah Negeri Pilihan (Syam)

Para nabi, rosul, syuhada dan sholihin pernah tinggal di Palestina. Sehingga nabi ﷺ menyuruh untuk tinggal di Syam. Menjadikannya sebagai negeri pilihan.

Lihat juga  Kiat Mendirikan Sholat Khusyu

عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Beradalah (bermukimlah) kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Alloh dan dihuni oleh makhluk pilihan-Nya”.

3. Perhatian Nabi Terhadap Baitul Maqdis / Palestina

Setidaknya ada 6 peristiwa yang mengaitkan rosululloh ﷺ dengan Baitul Maqdis semasa beliau dakwah 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun Medinah yakni sebagai berikut:

Berupa peristiwa fisik dan ruhani yang mengaitkan dakwah rosul dengan seluruh nabi dan rosul sebelumnya. Setelah dari Sidratul Muntaha beliau meng-imami sholat dengan para nabi dan rosul di masjid al-Aqso.

  • Ghazwah Dumatul Jandal (tahun ke-5 H)
  • Surat kepada Kaisar Hiraklius (tahun ke-6 H)

Rosul ﷺ mengirimkan surat dakwah dan utusan kepada penguasa Kaisar Hiraklius untuk menjaga keselamatan masjid al-Aqso

  • Ghazwah Mu’tah (tahun ke-8 H)
  • Ghazwah Tabuk (tahun ke-9 H)
  • Pasukan Usamah bin Zaid (tahun ke 10H)
Klaim Yahudi Bahwa Palestina adalah Tanah yang Dijanjikan untuk Mereka

Orang Yahudi menyatakan bahwa dalam ayat al-Quran dinyatakan bahwa Palestina adalah tanah Bani Israel umat nabi Musa as, sebagamana tertera dalam QS al-Maidah 21 berikut:

يَٰقَوْمِ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْأَرْضَ ٱلْمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِى كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا۟ عَلَىٰٓ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا۟ خَٰسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS al-Maidah 21)

Namun jika melihat tafsirnya, klaim itu tidaklah benar. Dalam tafsir dijelaskan bahwa nabi Musa as menyampaikan kepada kaumnya berita yang menenangkan diri mereka (bani Israil yang mengikuti beliau), jika mereka percaya dan beriman kepada berita yang Alloh kabarkan, niscaya mereka akan memasuki tanah suci itu dan memenangkan atas musuh mereka.

Jadi, tanah Palestina yang dijanjikan Alloh adalah untuk orang-orang yang beriman kepada Alloh dan waktu itu adalah untuk kalangan Bani Israil yang beriman kepada Alloh, terbatas waktu pada masa itu.

Palestina Tempat Yahudi Dikalahkan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Palestina adalah tempat Yahudi dikalahkan oleh kaum muslimin. Sampai orang Yahudi bersembunyi di batu Gharqad. Hadits ini dipercaya oleh orang yahudi sampai sekarang. Sampai mereka meramai-ramai menanam pohon Gharqad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahud/i di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.”

Pohon Gharqad, Pohonnya Yahudi
Janji Alloh untuk Kemenangan Umat Islam

Alloh menjanjikan kemenangan bagi umat Islam, saat orang Yahudi berbuat kerusakan (peperangan). Namun kemenangan ini ada syaratnya. Alloh menggunakan kata KAMI, maknanya kemenangan akan diraih saat umat islam bersama-sama berjuang membebaskan Baitul Maqdis (Palestina).

وَقَضَيْنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ فِى ٱلْكِتَٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar (QS al-Isra 4)

فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُولَىٰهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُو۟لِى بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا۟ خِلَٰلَ ٱلدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا

“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana (QS al-Isra 5)

Kekuatan besar yang merajalela di kampung-kampung untuk mengalahkan Yahudi yang dijelaskan pada ayat di atas, selaras dengan hadits Nabi Muhammad saw sebagai berikut:

“Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran terhadap musuh mereka. Mereka mengalahkannya, dan tidak ada yang membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya, hingga datang kepada mereka Keputusan Alloh ‘azza wa jalla, dan tetaplah dalam keadaan demikian. Para sahabat bertanya ”Wahai rosululloh, dimanakah mereka? Rosululloh bersabda, “Di Baitul maqdis dan di sisi-sisi Baitul Maqdis”. (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzamah)

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Melihat keistimewaan yang diterangkan di atas dan relitas saat ini terkait dengan masjid al-Aqso dan Palestina, maka seyogianya kita turun berperan di dalamnya.

Nabi ﷺ bersabda, kalau tidak bisa berkunjung memakmurkannya, maka kirimlah minyak untuk menerangi lampu-lampunya.

“Dari Maimunah maula Nabi saw berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain”. Maimunah bertanya lagi, “Bagimana jika aku tidak bisa”. Maka berikanlah minyak untuk penerangannya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.” (HR Ahmad).

Dalam konteks masa kini, mengirim minyak untuk menerangi bisa diartikan mengirim doa, donasi, relawan, dan share info yang bisa menjadi pencerahan umat Islam lainnya tentang pentingnya memperjuangakan al-Aqso dan Palestina.

Mudah-mudahan kita menjadi bagian dari pembebasan al-Aqso. Karena menyatukan diri dengan berbagai perbedaan kaum muslimin menjadi syarat utama pembebasan al-Aqso dan Palestina.

Surat Waqaf al-Aqso untuk Umat Islam

+++++++++

Pengajian  Ba’da Shubuh 30 Maret 2024, Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, Penceramah Ustadz Ali Farkhan Tsani S.Pd.I (Duta Internasional al-Quds)

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ++Admal Syayid++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *