Kamis, 22 Feb 2024
Politik Islam

Kemajuan Islam dalam Politik dan Ekonomi

Islam yang Maju

Di zaman sebelum kemerdekaan, telah berdiri beberapa organisasi Islam yang berjuang melawan kolonialisme Belanda. Tahun 1905 berdiri Syarikat Islam di Surakarta oleh H. Samanhudi. Tahun 1912 berdiri Muhammadiyah di Kampung Kauman Jogjakarta oleh KH Ahmad Dahlan. Tahun 1926 berdiri Nahdhotul Ulama (NU) di Surabaya oleh KH Hasyim Asyári. Tahun 1928 berdiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di Bukit Tinggi Minangkabau oleh Syekh Sulaiman Ar-Rosuli. Dan pada tahun 1930 berdiri Al Jamiyatul Washliyah di Medan Sumatera Utara. Mereka memiliki kesamaan nilai (value), yaitu semangat menggapai kemajuan islam, membebaskan masyarakat Indonesia dari penjajahan bangsa lain yang diskriminatif menuju masyarakat merdeka.

Kemuliaan dan semangat para founding father di atas, tentu tidak berhenti saat kemerdekaan telah diraih. Meskipun jasadnya sudah tiada, semangat yang diwariskan perlu diteruskan oleh generasi penerus hingga saat ini. Semangatnya sama, yakni visi menggapai kemajuan islam melawan kebodohan, kemiskinan, kedholiman, dan ketidakadilan.

Nilai dan tauladan yang diperjuangkan para tokoh dan ulama masa lalu untuk kemajuan islam dapat diwujudkan dalam konteks kekinian berupa hal-hal sebagai berikut:

1. Semangat Mencari Ilmu
 

Para tokoh dan ulama islam masa lalu memberikan tauladan untuk kemajuan islam melalui semangat mencari ilmu yang luar biasa. Sebut saja, tokoh muda dari Jogja bernama Muhammad Darwis. Saat kondisi sulit dan kekurangan, beliau menyeberangi lautan menggapai ilmu sampai ke negeri Mekkah. Belajar kepada mufti besar mazhab Syafii yang di segani, bernama Syeikh Ahmad Zaini Dahlan.

Saat pulang ke Indonesia, Muhammad Darwis tidak sekedar menjadi imam mesjid. Ia mendirikan organisasi bernama Muhammadiyah. Kiprahnya sampai sekarang sangat dirasakan banyak umat. Namanya pun lantas disandingkan dengan mufti Mekkah di atas, menjadi KH Ahmad Dahlan.

Spirit menuntut ilmu harus dilanjutkan. Anak muda jangan berkutat di kampung halaman. Terbanglah jauh sampai mata memandang. Dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan transportasi saat ini, memudahkan setiap orang menggapai ilmu kapan dan dimana pun berada. Tidak hanya ilmu agama, namun juga ilmu pengetahuan lain, karena hakikatnya semua ilmu datangnya dari Alloh SWT.

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

‘’Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali-Imran 190)

Alloh SWT menggunakan kata لَءَايَٰتٍ dalam ayat di atas, menunjukkan tanda-tanda (sign) dari segala sesuatu yang ada di langit dan bumi sebagai objek untuk dipelajari. Pelajarilah ayat-ayat tersurat melalui ilmu tafsir, juga pelajari ayat-ayat tersirat melalui berbagai disiplin keilmuan misalnya antropologi, geologi, astronomi, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

2. Bekerja Sama dan Menjaga Persatuan
 

Nilai lain yang diwariskan tokoh islam masa lalu untuk kemajuan islam adalah semangat bekerja sama dan menjaga persatuan. Buya Hamka saat berdakwah ke Sabah Malaysia, ia diminta sultan setempat untuk mengirimkan dai-dai Indonesia ke sana. Buya Hamka lantas mengirim 19 orang dai yang ia pilih dari organisasi Al Jamiyatul Washliyah, bukan dari organisasinya sendiri Muhammadiyah. Begitu pula saat pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Syekh Sulaiman ar Rosuli meninggal dunia, Buya Hamka yang melepas dan mensholatkan jenazahnya. Padahal saat itu terdapat gesekan di masyarakat antara kaum tuo (PERTI) dan kaum mudo (Muhammadiyah)

Dari sosok Buya Hamka, kita bisa belajar tauladan bekerja sama dan menjaga persatuan umat islam. Ia tidak memperuncing perbedaan antar organisasi, namun sebaliknya melihat titik persamaannya. Dia melihat antara Muhammadiyah, Al Jamiyatul Washliyah, dan PERTI sebagai organisasi yang bersaudara dan ia pun menjembataninya. Organisasi islam ibarat sebuah perahu, sama-sama ingin mencapai tujuan, yakni keridhoan Alloh swt.

Kebersamaan para tokoh dan ulama sangatlah penting, karena akan memberikan tauladan kepada jamaah akar rumput di bawahnya. Ada pepatah mengatakan menjinakkan buaya mudah, namun tarasa payah saat menjinakkan pawangnya. Saat tokoh ulama duduk bersama, maka ikatan persatuan di masyarakat bawah akan lebih mudah terwujud dalam bingkai laa ilaaha illalloh, dan negara kesatuan Republik Indonesia. Pada perkara yang disepakati, tingkatkan spirit bekerja sama. Sementara dalam perkata yang berbeda (ikhtilaf), berlapang dada lah dan siap menerima perbedaan.

3. Profesional dan Kontributif
 

Spirit lain yang diajarkan para ulama islam adalah berkontribusi maksimal secara profesional. Peran umat islam tidak sekedar mengurus mesjid, namun memiliki kemampuan mengelola lembaga dan bidang usaha secara berkesinambungan, misalnya yayasan, panti asuhan, rumah sakit, hotel, mall, tanah waqaf, perkebunan, dan lain sebagainya. Hingga memiliki kemampuan finansial membeli gereja di Eropa yang sudah ditinggalkan jamaahnya. Mereka berpikiran maju ke depan, serta membantu kesuksesan sesama orang islam dalam berbagai aspek.

4. Partisipasi dalam Politik
 

Peran para ulama dahulu dalam bidang politik sangat menonjol dan haruslah diikuti jejaknya. Saat ini, umat islam indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, dari sisi jumlah maupun kualitas. Jika kekuatan ini dikelola dengan baik, tentunya akan berdampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Umat islam harus ‘melek’ politik. Jika tidak, umat islam akan dipolitisasi oleh pihak lain. Kemaslahatan umat tidak cukup dengan memberi ceramah dan tsausiyah di mesjid. Namun, mesti diperjuangkan oleh orang-orang baik yang membela umat dan mengerti di bidang politik. Contohnya di parlemen (DPR, DPRD, DPD) dan di jabatan strategis pemerintahan (Bupati, Walikota, Gubernur sampai Presiden). Saat orang baik tidak memilih orang baik, maka jangan salahkan jika orang-orang jahat, pecandu narkoba, LGBT, dan kafir menempati dan memegang kekuasaan.

Begitu pentingnya bab kepemimpinan dan pemerintahan dalam pandangan islam, ada satu Kitab khusus yang berjudul alahkam as-sulthoniyah, ditulis oleh imam al Mawardi pada tahun 450 H. Isinya berupa panduan tentang kesultanan, kerajaan, dan amirul mukminin.

Islam tidak hanya berhubungan dengan fiqih ibadah (shalat, zakat, puasa), muamalat (jual beli, pinjam meminjam, gadai), dan pernikahan (akad, tolak, rujuk, li’an, dan zihar), namun juga ada fiqh syiasah (politik Islam). Ia memandu bagaimana umat islam memilih pemimpin yang layak, apa syarat pemimpin dan bagaimana mengangkatnya. Ilmu tersebut dipelajari khusus di fakultas syariah jurusan syiasah.

Jika ada pemuka yang meyerukan agar umat Islam jangan bicara politik, karena politik itu jahat, maka jangan dikuti. Karena sesungguhnya ketidakpedulian umat islam itulah yang diinginkan oleh kaum sekuler, liberal dan komunis. Mereka akan sekuat tenaga menjauhkan umat islam dari politik, dan ia yang akan mengambilnya.

++++++

Dikutip dari Ceramah Ust Prof. Abdul Somad Lc MA dalam acara pelantikan Pengurus Muhammadiyah Deli Serdang, 30 November 2023.

Tags:kemajuan islamkhilafah islamnkriorganisasi islampemimpin islamPolitik islam


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *