Kamis, 22 Feb 2024
Akhlaq IslamAqidah Islam / Tauhid

Kiat menjadi Muslim Moderat

Ulama pewaris nabi

Saat ini, keislaman kita ditantang oleh situasi akhir zaman. Diantara tanda akhir zaman adalah diangkatnya ilmu dan merajalelanya kejahilan. Nabi Muhammad mengingatkan, akan datang kepada manusia masa penuh penipuan. Orang jujur akan didustakan, dan sebaliknya orang dusta akan mudah dipercaya. Dalam situasi seperti ini, akan lahir dua kelompok islam yang jahil. Pertama, kelompok dengan pemahaman islam yang dangkal yang memiliki karakter mudah menyalahkan atau mengkafirkan  orang lain. Sementara kelompok kedua adalah kelompok yang mudah menambah-nambah agama sesuai hawa nafsu, akal dan tidak menerima agama dari sumber asli al-Quran dan sunnah. Kedua kelompok ini, tidaklah selaras dengan al-Quran, karena al-Quran dengan tegas menyuruh kita untuk menjadi muslim moderat atau pertengahan (washothiyah).

Sebagaimana tertuang dalam  QS al-Baqoroh 143: 

…وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah, telah kami jadikan kamu suatu umat yang tengah….”

Jika ditelaah lebih lanjut, umat pertengahan atau muslim moderat yang diterangkan dalam ayat di atas memiliki makna yang sangat luas. muslim moderat adalah umat yang adil, terbaik dan unggul. Umat yang meletakkan seluruh masalah secara proporsional, melahirkan kebaikan dan rahmat bagi alam, serta unggul dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Untuk menuju sifat seperti di atas, syaratnya harus memiliki tiga dimensi secara sempurna dan terintegrasi dalam diri dan kehidupan sehari-hari, yakni dimensi Aqidah, Syariah dan Akhlaq.

Islam moderat pada dasarnya mengandung 3 pokok ajaran ini, seperti tercermin dalam rukum iman (Aqidah), rukun islam (Syariah) dan rukun ikhsan (Akhlaq). Dimensi aqidah bicara kafir-musyrik-munafiq, syariah bicara halal-haram-mubah, sementara akhlaq bicara benar-salah, baik-buruk, patut dan tidak patut.

Tidaklah cukup seorang muslim moderat hanya condong atau melihat permasalahan hanya pada salah satu dari ketiga dimensi ini, melainkan haruslah kaffah atau menyeluruh. Dari ketiga dimensi ini, biasanya orang lebih sering fokus pada dimensi aqidah dan syariah sementara dimensi akhlaq kadang kurang mendapat perhatian. Padahal, dimensi akhlaq sama pentingnya dalam menunjang kesempurnaan islam.

Akhlaq adalah nilai-nilai yang terpatri dalam jiwa yang menjadi sumber perilaku tanpa di rekayasa atau spontan. Dimensinya ada tiga yakni akhlaq kepada Alloh SWT, akhlaq kepada Nabi dan akhlaq kepada Makhluk ciptaan-Nya.

Begitu tingginya kedudukan akhlaq, nabi bersabda.

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari)

Agama itu pada dasarnya akhlaq, tidak ada agama bagi yang tidak berakhlaq. Barang siapa yang melanggar akhlaq pada dasarnya ia melanggar agama.

Dimensi yang pertama kali didakwahkan rosul adalah akhlaq. Sebelum diangkat menjadi nabi, sosok Muhammad saw adalah seorang terpercaya (al-amin), berperilaku lemah lembut, ramah dan dapat dipercaya. Al-Quran pun menjelaskan bahwa dakwah nabi harus menggunakan akhlaq. Saat nabi Musa diutus kepada Firaun laknatulloh, Alloh SWT bersabda dalam QS Taaha: 43-44 

ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilan kamu berdua kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepada Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut”.

Begitu pula banyaknya orang Indonesia yang masuk islam pada abad 14 masehi dikarenakan para penyebar islam menyampaikannya dengan perilaku jujur, lemah lembut dan kasih sayang.

Jadi, untuk menjadi muslim moderat di zaman yang penuh tantangan ini, haruslah memiliki tiga dimensi ajaran secara utuh dalam diri dan kehidupan nyata yakni Aqidah, Syariah dan Akhlaq….semoga kita bisa meraihnya, amien….

++++++

Pengajian Mesjid Darussalam, 23 Mei 2015, Narasumber DR Khairan Muhammad Arif. 

Tags:akhlaqIslam moderatlemah lembutMuslim moderatTantangan zaman


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *