Memahami Tafsir Surat al-Kautsar

By Nasehat Islam Last Updated On 18 February 2024 0 Comments
Tafsir Surat al-Kautsar
Tafsir Surat al-Kautsar

A. Surat al-Kautsar

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

B. Pengantar

Surat al-Kautsar ini terdiri dari tiga ayat, termasuk ke dalam kelompok surat Makiyah atau surat
yang diturunkan sebelum terjadinya pristiwa hijrahnya Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah. Surat al-Kautsar yang mulia ini (nomor urut surat ke 108) Alloh turunkan setelah surat al-‘Adiyat. Dinamakan surat al-Kautsar diambil dari ayat pertama dalam surat yang agung ini.

C. Kandungan Ayat

Surat ini turun berkaitan dengan kisah salah seorang kafir Qureisy yang bernama Al-‘Ash bin
Wail ketika dia masuk ke dalam Masjidil Haram bertemu dengan Nabi ﷺ yang berada di dekat pintu Bani Sahm. Lalu mereka berdua bertegur sapa, sementara beberapa orang pemuka kafir Qureisy lainnya lagi duduk-duduk di dalam masjid.

Lalu mereka bertanya kepada Al-‘Ash: Dengan siapa tadi engkau berbicara? Al-‘Ash bin Wail menjawab: Dengan orang yang terputus, orang yang tidak punya turunan sebagai pelanjut…yang dia maksud adalah Nabi Muhammad ﷺ …orang-orang kafir Qureisy menyebut Muhammad ﷺ dengan sebutan al-abtar, orang yang terputus, orang yang tidak punya turunan anak laki-laki, ini terjadi setelah kematian anak beliau Abdullah dari isterinya Khadijah binti Khuwaild.

D. Pengertian al-Kautsar

Tentang al-Kautsar ini para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskannya, seperti yang terlihat berikut ini:

1. Al-Kautsar adalah telaga yang berada di dalam surga Alloh

Pendapat ini didasarkan kepada riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik. Anas bin Malik berkata:

Suatu ketika Rasulullah ﷺ di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya: Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Baru saja turun kepadaku suatu surat, lalu beliau membaca:

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. Al Kautsar: 1-3).

Kemudian beliau berkata: Tahukah kalian apa itu Al Kautsar? Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, jawab kami. Rasulullah ﷺ bersabda:

Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. la adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Aku bertanya: Ya Rabbi, dia adalah bagian dari ummatku. Alloh berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat amalan baru sesudahmu. (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang bersumber dari Abdullah bin Umar-semoga Alloh meridhai mereka berdua, ia berkata:

Al-Kautsar adalah sebuah telaga (sungai) di dalam surga, kedua tebing (tembok)nya terdiri dari emas, aliran air (dasar sungai)nya terdiri dari permata durriy dan yakut, aromanya lebih harum dari minyak kasturi, airnya lebih manis dari madu, dan lebih bening dari salju/embun. (HR. At-Timidzi). Dan dia mengatakan: Hadits ini Hasan Shoheh.

2. Telaga Nabi ﷺ yang berada di Padang Mahsyar, tempat berkumpulnya ummat manusia

Pendapat ini berdasarkan riwayat dari sahabat Nabi yang mulia, yaitu Abu Dzar al-Ghifari.

Dari Abu Dzarr, ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan bejana yang ada di al-haudh (telaga Al-Kautsar)? Nabi ﷺ menjawab: Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Wadah untuk minum yang ada di telaga Al-Kautsar banyaknya seperti jumlah bintang dan benda yang ada di langit pada malam yang gelap gulita. Itulah gelas-gelas di surga. Barang siapa yang minum air telaga tersebut, maka ia tidak akan merasa haus selamanya. Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Amman dan Ailah. Airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada manisnya madu.” (HR. At-Tirmidzi dan lain-lain).

3. al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang Alloh berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ

Pada suatu ketika Sa’id bin Jubeir pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna dari al-Kautsar. Ibnu Abbas menjawab: al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang Alloh berikan kepada nabi Muhammad ﷺ. kemudian ada yang bertanya kepada Sa’id bin Jubeir: Orang-orang beranggapan bahwa al-Kautsar itu adalah sebuah telaga di dalam surga. Lalu Said bin Jubeir menjelaskan: Bahwa telaga di dalam surga itu adalah sebagian dari kebaikan yang diberikan Alloh kepada nabi Muhammad ﷺ.

4. al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, yaitu berupa al-Qur’an dan al-Hikmah (lImu), (QS.2:269)

Ikrimah meriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. adalah kebaikan yang banyak, al-Quran dan Hikmah.

5. Kenabian, sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah

6. Pengikut dan ummatnya yang banyak, seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar bin lyyasy

E. Orang-orang yang terhalang minum di telaga al-Kautsar

Tidak semua ummat Nabi Muhammad ﷺ yang mendapatkan izin untuk minum di telaga al-Kautsar ini.

Berdasarkan kepada hadits riwayat ‘Abdulah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

Aku akan mendahului kalian di al-Haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata Wahai Rabbku, ini adalah umatku. Lalu Alloh berfirman, Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafazh:

(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Alloh berfirman: Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu. Kemudian aku (Rasulullah ﷺ) mengatakan: Celaka, celakalah bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku. (HR. Bukhari).

Lantas siapakah yang dimaksud dengan orang yang terhalang minum di telaga al-Kautsar ini?

Dalam hal ini paling tidak ada tiga pendapat:

#Pendapat 1

Pendapat yang mengatakan bahwa mereka ini adalah orang yang masuk Islam di zaman Nabi ﷺ lantas murtad sepeninggal Nabi ﷺ. Nabi ﷺ memanggil mereka walau tidak memiliki bekas tanda wudhu. Walau Nabi ﷺ tahu keislaman mereka ketika beliau hidup. Lantas dibantah, mereka itu adalah orang yang murtad setelahmu.

#Pendapat 2
Pendapat lain mengatakan bahwa mereka adalah ahli maksiat dan pelaku dosa besar yang mati masih dalam keadaan bertauhid. Begitu pula termasuk di sini adalah pelaku bid’ah yang kebid’ahan yang dilakukan tidak mengeluarkannya dari Islam. Menurut pendapat ini, apa yang disebutkan dalam hadits bahwa mereka terusir (Cuma) sekedar hukuman saja, mereka tidak sampai masuk neraka.

#Pendapat 3

Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang semasa hidup di dunia senantiasa mendukung dan loyal, setia kepada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan tidak berpedoman kepada sunnah beliau.

Pendapat ini berdasarkan kepada sebuah hadits yang bersumber dari Jabir bin Abdilah, disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah berkata kepada Ka’ab bin ‘Ujrah seraya bersabda: Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah: 

Semoga Alah melindungimu dari pemimpin yang bodoh. Kaab bertanya: Apakah yang dimaksud dengan pemimpin yang bodoh itu? Nabi ﷺ menjawab: Para pemimpin yang datang setelah aku nanti, mereka tidak mengikuti petunjukku, tidak berpedoman dengan sunnah (ajaranku). Barang siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya, membantu mereka dalam kezalimannya, mereka bukan bagian dariku dan aku bukan menjadi bagian dari mereka, dan mereka tidak akan mendatangi telagaku. Dan barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong mereka dalam kezalimannya, maka mereka itu adalah bagian dariku dan akupun menjadi bagian dari mereka, dan kelak mereka akan mendatangi telagaku. (HR. Baihaq, Ibnu Hibban dan An-Nasai).

++++++

Pengajian ba’da Shubuh, Mesjid Nur Romadhan Pulo Asem Utara Jakarta Timur, Penceramah: DR Darwis Abu Ubaidah MA.

(180224)

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ~Admal Syayid~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *