Memahami Tafsir Surat Al-Ma’un

By Nasehat Islam Last Updated On 17 March 2024 0 Comments
Memberi Makan Orang Miskin
Memberi Makan Orang Miskin

1. Surat Al-Ma’un (1-7)

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

Orang-orang yang berbuat riya,

وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ

Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

2. Pengantar

Surat Al-Ma’un yang berarti barang-barang yang berguna ini terdiri atas tujuh ayat. Surat yang agung dan mulia ini tergolong ke dalam kelompok surat Makiyah atau surat yang diturunkan di Makkah, sebelum peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw ke Madinah.

3. Kandungan Ayat

A. Sebab Turun Ayat

Di dalam kitab Asbabun-Nuzul, Imam al-Wahidi (wafat 468 H) menurunkan dua riwayat yang berkaitan dengan sebab turun surat yang agung ini, yaitu:

  • Mugatil dan al-Kalabi mengatakan bahwa ayat yang berbunyi “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Allah SWT turunkan berkaitan dengan Al-‘Ash bin Wail al-Sahmi.
  • Ibnu Jureij menceritakan bahwa dulu Abu Sufyan bin Harb setiap minggunya menyembelih dua ekor domba. Pada suatu ketika ada seorang anak yatim datang meminta kepadanya, kemudian anak yatim tersebut dipukulnya dengan tongkatnya, lalu Allah SWT turunkan ayat: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? itulah orang yang menghardik anak yatim.
  • Al-Qurthubi menurunkan sebuah riawayat dari Ad-Dhahak yang meriwayatkan bahwa surat ini Allah SWT turunkan berkaitan dengan seorang munafiq yang tidak benar dalam mengerjakan shalatnya..pendapat ini bersumber dari riwayat Ibnu Abbas yang mengatakan:

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisa 142)

B. Surat Al-Ma’un mengandung banyak faedah dan pelajaran, antara lain:

1. Allah SWT menjelaskan sebagian dari sifat-sifat orang yang menjadi pendusta agama. Dalam surat Al-Ma’un yang agung dan mulia ini, Alloh sebutkan ciri-ciri orang yang mendustakan agama tersebut, yaitu: 

    • Orang yang menghardik anak yatim

Menghardik anak yatim dalam ayat di sini dapat juga bermakna mengabaikan, tidak peduli kepada mereka, apa lagi kalau sampai bersikap kasar kepada mereka, maka prilaku kasar tersebut tidak diragukan bahwa itu adalah bagian dari dosa besar.

    • Orang yang tidak menganjurkan orang lain untuk memberikan makan orang miskin

Yang terbaik dalam hidup ini adalah ketika kita bisa berbuat sesuatu untuk meringankan orang lain. Kalau kita pun ternyata tidak tampil sebagai pelaku kebaikan, sekurang-kurangnya kita bisa menganjurkan, memberikan masukan kepada orang lain agar kiranya mereka tergerak pula untuk membantu orang-orang yang memang sangat membutuhkan bantuan. Firman Alah: “tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa”…(QS.5:2)

2. Alloh menjelaskan tentang sifat- sifat orang yang lalai terhadap shalatnya serta ancaman bagi pelakunya, yaitu: 

    • Orang-orang yang mengerjakan Shalat tidak pada waktu yang semestinya, seperti mengerjakan shalat di akhir-akhir waktunya.

    • Orang-orang yang mengerjakan shalat tidak seperti yang dicontohkan oleh rasulullah ﷺ , baik ruku’, sujud, l’tidal dsb.

    • Orang-orang yang tidak berusaha untuk khusyu’, konsentrasi atau focus di dalam shalatnya. Tentu akan berbeda dengan orang-orang yang sudah berusaha untuk khusyu’ namun tetap tidak bisa khusyu’ di dalam shalatnya.

    • Sedangkan ancaman yang telah Alloh janjikan kepada mereka yang lalai terhadap shalatnya ini adalah berupa Wail yang dapat mengandung makna:

      • Hilaakun yang berarti kebinasaan
      • Hasrotun yang berarti penyesalan
      • Adzaab yang berarti azab atau siksaan
      • Waadin fii Jahannam yang berarti sebuah lembah yang berada di dalam neraka Jahannam.

Untuk arti yang terakhir ini, ada beberapa riwayat yang dapat dikemukakan sebagai dasar dalam memahami arti dan maksud dari ayat tersebut, di antaranya:

        • Abu Said al-Khudri-semoga Allah meridhainya-meriwayatkan bahwa rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Wail adalah lembah di dalam neraka Jahannam yang mana orang kafir jatuh ke dalamnya selama empat puluh tahun belum sampai ke dasarnya, sedangkan Ash Sha’uud adalah gunung di neraka yang seorang kafir memanjatnya selama tujuh puluh tahun kemudian ia akan jatuh kembali ke dasar, dan mereka akan seperti itu selama-lamanya.” (HR. Ahmad).

        • Abdulah bin Mas’ud-semoga Alah meridhainya-meriwayatkan bahwa rasulullah ﷺ telah bersabda:

Wail adalah sebuah lembah di dalam neraka Jahannam, yang mengalir di dalamnya darah bercampur nanah penghuni neraka, (semuanya itu) diperuntukkan bagi orang-orang yang mendustakan agama.” (HR. Baihaqi).

        • Atha’ bin Yasar-semoga Alloh merahmatinya- ketika mengomentari tentang panasnya neraka Wail ini, beliau berkata:

Wail adalah sebuah lembah di dalam neraka Jahannam, sekiranya dimasukkan gunung (termasuk gunung batu, bukan gunung es) ke dalamnya, niscaya gunung tersebut akan hancur karena panasnya.” (HR. Baihaqi).

        • Semua arti yang dijelaskan di atas memberikan sebuah jawaban betapa besarnya dosa dan ancaman bagi orang-orang yang suka melalaikan shalatnya.

3. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya. Ikrimah pembantu Ibnu Abbas pernah ditanya: Apakah semua orang yang tidak mau memberikan kebaikan kepada orang lain itu diancam dengan neraka Wail? Beliau menjawab:

Tidak, tetapi barangsiapa yang mengumpulkan ketiga-tiganya, maka dia diancam dengan Wail, yaitu: meninggalkan shalat, riya atau pamer, dan bakhil terhadap barang-barang yang berharga…”

 

++++++

Dikutip dari Pengajian Shubuh, 17 Maret 2024, Mesjid Nur Romadhan Pulo Asem Utara, Jakarta Timur, Penceramah Ustadz DR Darwis Abu Ubaidah.

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ~Admal Syayid~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *