Kamis, 22 Feb 2024
Aqidah Islam / TauhidNabi Muhammad SAW

Memahami Tradisi Literasi Peradaban Islam

Membudayakan Tradisi Literasi

Agama Islam yang lahir 14 abad silam, telah memberikan kontribusi positif terhadap peradaban dunia. Banyak penemuan (invention) yang ditemukan oleh ilmuwan muslim di berbagai bidang keilmuan. Sebut saja Ibnu Sina (Kedokteran), Al Khawarizmi (Matematika), Al-Jazari (konsep dasar robot) dan lain sebagainya. Pencapaian ini tidak terlepas dari perjalanan panjang risalah islam sejak wahyu pertama diturunkan dalam menerapkan tradisi literasi (membaca dan menulis) yang dijalankan secara turun menurun.

Rahasia kegemilangan peradaban islam dalam memajukan ilmu pengetahuan, bisa ditelusuri dari jejak khalifah Harun ar-Rasyid pada masa dinasti Abbasiyah tahun 790 H. Beliau menggagas mendirikan Baitul Hikmah. Berupa perpustakaan umum pertama yang ada di dunia. Sebagai rujukan para pencari ilmu dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Pendirian Baitul Hikmah, merupakan upaya memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat umum. Pada masa itu koleksi buku merupakan hal yang sangat mahal dan hanya dimiliki oleh perorangan. Seorang pencari ilmu harus menemui ulama di tempat yang jauh dan sulit dicapai. Begitu pula, saat ingin memiliki buku, karena belum adanya teknologi percetakan, ia harus memesannya cukup lama karena harus disalin tulisan tangan. Tidak heran, ukuran kesarjanaan saat itu, lebih ditentukan oleh banyaknya hapalan (bukan tulisan buku) dan orangnya dikenal dengan gelar al Hafiz dan al Hakim.

Faktor inilah yang mendorong khalifah Harun al Rasyid, mendirikan Baitul Hikmah. Ia memesan banyak buku lalu disimpan di perpustakaan. Tidak hanya itu, ia melengkapi perpustakaan dengan hadirnya para ulama yang menguasi koleksi buku. Setiap pelajar datang, ia akan berkonsultasi terlebih dahulu dan mengungkapkan permasalahan yang akan dipelajari. Lalu ulama akan membimbing dan mencarikannya rujukan. Dengan berdirinya perpustakaan ini, saat itu Bagdhad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia dengan tradisi riset ilmiah yang mendorong kemajuan peradaban Islam. Konsepnya kemudian diduplikasi di tempat lain, misalnya Jamia Khirawan Tunisia dan Jamia Azhar Mesir.

Mengapa tradisi literasi maju di saat itu?

Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa saat itu tradisi literasi memelihara tulisan ilmiah di dunia Islam sangat terjaga sehingga bisa mengembangkan ilmu pengetahuan?

Untuk menjawabnya, kita bisa menelusuri lebih ke belakang saat Islam dilahirkan. Sungguh, tradisi literasi sangat erat kaitannya dengan pesan dari surat pertama dan kedua al-Quran yang diturunkan yakni al-Alaq (Iqro) dan al-Qolam. Awal surat Al-Alaq mengandung perintah membaca dan Alloh menyatakan bahwa Al-Qolam (pena) adalah media untuk mengajari ilmu kepada manusia. Lebih lanjut, misi manusia sebagai khalifah di muka bumi akan benar-benar terlaksana jika berdasarkan cara berfikir (ilmu) yang didasari dengan dzikir kepada Alloh SWT.

Saat ayat pertama diturunkan, Nabi Muhammad ﷺ, yang ummi (tidak bisa membaca menulis), diminta Jibril untuk membaca (Iqro). Nabi ﷺ menjawab ‘Aku tidak bisa membaca’. Setelah kejadian berulang tiga kali, malaikat Jibril pun mendekap, lalu nabi ﷺ membaca (mengulang) ayat yang diturunkan sehingga hapal dan mamahaminya. Proses ini terus berlanjut pada turunnya ayat lain al-Quran. Nabi ﷺ mengulang (membaca) dan menghapalnya. Saat mendakwahkan kepada para sahabat, nabi ﷺ meminta tidak hanya menghapal namun menuliskan dalam berbagai media (batu, tulang, batang kayu, dll). Sehingga saat Abu Bakar menjadi khalifah, beliau menghimpun tulisan tersebut dan disatukan menjadi mushaf al-Quran.

Umar bin Khatab sebagai pelanjut khalifah, ternyata seorang pembelajar. Saat pemerintahan Islam semakin kompleks karena bertambahnya wilayah, ia belajar kapada ahli Persia dan Romawi mengenai ilmu pemerintahan efektif. Berlanjut ke asia tengah, berkat kesadaran terhadap ilmu pengetahuan, lahir ilmuwan / ulama hebat dan dinasti Islam yang disegani yakni Saljuk, Mamluk dan terakhir Turki Ustmani.

Melihat fakta di atas, risalah agama Islam sungguh berdasarkan proses literasi yang berkelanjutan. Otentitas tulisan dan bacaan al-Quran serta hadits nabi sangatlah terjaga melalui tulisan dan hapalan. Prosesnya terus berlanjut seiring dengan perkembangan area dan pengaruh. Lahirlah karya tulisan dan penemuan hebat. Tidak hanya berkaitan dengan urusan agama tapi juga ilmu pengetahuan. Jadi, perkembangan Islam dibarengi dengan pengembangan pemikiran dan peradaban (Islamic Civilization) yang dibangun atas dasar keyakinan terhadap agama.

Apa yang harus dilakukan ke depan?

Kemajuan peradaban Islam, janganlah hanya menjadi romantisme sejarah masa lalu. Namun harus menjadi landasan nilai untuk menyongsong generasi masa mendatang. Tidak bisa dipungkiri, saat ini tingkat literasi masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Dari 60 negara yang disurvei, Indonesia menempati peringkat ke-58. Begitu pula jumlah penerbitan buku per tahun di Indonesia masih rendah dibanding populasi. Angkanya baru mencapai 2.500. Masih kalah dibandingkan Singapura yang mencapai 5.000.

Sebagai umat Islam, harusnya kembali ke inti pesan ajaran al-Quran. Menyadari bahwa iqro merupakan bagian dari perintah agama, di samping perintah sholat, zakat, puasa, dan lain-lain. Sehingga bisa membudayakan tradisi literasi dari tingkatan terkecil keluarga. Tentunya, Proses ini membutuhkan usaha ekstra dan kesabaran. Membaca bagi sebagian orang, akan terasa melelahkan dan membosankan. Namun jika tidak memaksakan diri, kapan peradaban masa depan yang gemilang akan diraih kembali.

Seyogyanya seorang mukmin selalu mengambil hikmah. Ilmu akan menjadi pelita bagi seseorang. Ambillah setiap ilmu meskipun berasal dari orang kafir, contohnya pesawat, bangunan, mobil, dan lain lain. Karena pada dasarnya semua ilmu itu datangnya dari Alloh melalui tulisan. Jadikan Ilmu sebagai media untuk lebih menghamba kepada Alloh dan bermanfaat untuk kebaikan manusia dan alam sekitar.

+++++++

Pengajian Mesjid Darussalam Kota Wisata, 28 Oktober 2023. Pembicara Dr Tiar Anwar Bachtiar MA

Tags:budaya bacailmuwan islamkejayaan islamperadaban islamriset ilmiahtradisi literasi


Baca Juga

Komentar

One thought on “Memahami Tradisi Literasi Peradaban Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *