Menghadirkan Ibadah Sebagai Kenikmatan

By Nasehat Islam Last Updated On 16 June 2024 0 Comments 74
Kenikmatan Beribadah
Kenikmatan Beribadah

Saat Alloh SWT menciptakan makhluk, pasti memiliki tujuan. Termasuk penciptaan manusia. Jika merujuk pada isi al-Quran, salah satu tujuan Alloh menciptakan manusia adalah menjadikannya sebagai makhluk ibadah. Hal ini tertera dalam beberapa ayat sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Az Zariyat 56)

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqoroh 21)

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (QS al-Hijr 99)

Untuk menjalankan tugas kemanusiaan sebagai makhluk ibadah, tentunya jangan ‘sekedar’ menunaikan kewajiban. Namun, harus menghadirkannya sebagai sebuah kenikmatan atas dasar kepasrahan dan keikhlasan.

Hal ini sejalan dengan rukun agama yang harus diterapkan secara sempurna. Mulai dari rukun islam (bicara teknis ibadah), rukun iman (prinsip antara hak dan batil) dan juga rukun ihsan (kelayakan dan kepantasan). Tidak cukup beribadah hanya memperhatikan aspek rukun islam saja. Namun harus juga memperhatikan rukun iman dan rukun ikhsan.

Saat ketiga rukun agama ini diterapkan, maka ibadah akan dirasakan sebagai sebuah kenikmatan. Indikasinya kita akan berusaha menambah ‘porsi’ ibadah selain yang wajib.

Alloh SWT telah menyediakan berbagai sarana ibadah bagi mereka yang telah merasakan puncak kenikmatan. Misalnya waktu antara sholat Isya dan Shubuh. Karena jarak waktunya cukup lama, mereka yang sudah merasakan nikmatnya sholat, akan menambah ‘porsi’ dengan melaksanakan sholat sunah Witir, Tasbih, dan Tahajud. Begitu juga antara puasa Romadhan, mereka akan melakukan puasa sunah Senin-Kamis, Daud, Yaumul Bid, Arafah, dan lain sebagainya.     

Bagaimana Cara Menggapai Kenikmatan Ibadah?

Untuk menggapai kenikmatan ibadah, tentu tidaklah mudah. Perlu niat dan usaha yang harus dilakukan secara konsisten. Merujuk kepada nasehat seorang ulama, salah satu kiat agar bisa menggapai kenikmatan ibadah adalah dengan MEMELIHARA PERKARA IBADAH. Maksudnya mampu menjaga perkara sebelum, saat dan setelahnya.  

Lihat juga  Hati-Hati Pencuri Kebaikan Bulan Romadhan

Contoh konkritnya bisa kita jelaskan pada hal berikut ini:

Sholat

Untuk menggapai kenikmatan sholat, kita perlu menjaga perkara sebelum, saat dan sesudahnya. Sholat tidak sekedar didirikan tapi lebih dari itu, harus dijaga dan dipelihara. Sebagaimana dijelaskan pada ayat al-Quran berikut:

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara sholatnya”. (QS al-Mukminun 9)

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya”. (QS al-Ma’arij 34)

Wujudnya adalah sebelum tiba waktu sholat, kita menyegerakan pergi ke mesjid menunggu dikumandangkan adzan. Begitu juga saat melakukan sholat, menjaga dari hal-hal yang membatalkan sholat dan berusaha khusyu dari awal sampai akhir.

Selanjutnya, nilai-nilai sholat dibawa dalam kehidupan setelah sholat. Misalnya ucapan ‘’Allohu Akbar” diterapkan dalam pribadi yang tawadhu, tidak sombong dan angkuh. ‘Sujud’ diterapkan dalam pribadi yang tunduk dan berserah diri atas perintah Alloh. Ridho melakukan yang halal dan meninggalkan perkara yang haram.

Jika hal ini diterapkan maka sholat akan membawa kenikmatan, mencegah dari perbuatan keji dan munkar serta melahirkan sifat tawadhu.

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS al-Ankabut 45)

Hadits Qudsi,

إِنَّمَا أََتَقَبَّلُ الصَّلاةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُضْمَتِيْ

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-Ku…”

Puasa Romadhan

Seperti halnya sholat, agar bisa merasakan nikmatnya puasa Romadhan, maka perlu memelihara perkara sebelum, saat dan sesudahnya.

Sebelum datangnya Romadhan, ciptakan rasa rindu dan gembira karena akan datang bulan suci penuh berkah dan istimewa. Saat berpuasa, jagalah diri dari hal-hal yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa. Juga bergembira saat datangnya waktu berbuka (maghrib). Berbuka cukup dengan air putih dan 3 butir kurma terlebih dahulu dan bersegera menuju pertemuan dengan Alloh (sholat maghrib).

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).

Akhlak selama berpuasa, selanjutnya dibawa dalam kehidupan setelah puasa. Misalnya sholat berjamaah di mesjid, tilawah Quran, sedekah, dan juga nilai-nilai kesabaran dan kejujuran.

Lihat juga  Menyongsong Bulan Romadhan, Bulan Istimewa
Haji

Agar menggapai kenikmatan beribadah haji, juga harus memelihara sebelum, saat dan sesudahnya.

Sebelum melakukan haji, mulailah bertaubat dari hal-hal yang Alloh haramkan dan makruhkan. Ibadah haji adalah panggilan suci menuju tanah yang suci. Maka seyogyanya kita mensucikan diri sebelum menunaikannya. Juga memastikan biaya (ongkos) haji yang dikeluarkan tidak tercampur dari hal yang diharamkan.

Suasana Haji Tempo Doeloe

Selama melaksanakan haji, niatkan atas dasar karena Alloh semata dan menghindari perkataan jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq) dan bertengkar (jidal).

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS al-Baqoroh 196)

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…(QS al-Baqoroh 197)

Setelah pulang ke tanah air, jagalah perkara-perkara baik yang dilakukan selama di Mekkah dan Medinah. Misalnya rajin sholat berjamaah di mesjid, menghiasi perkataan dengan ucapan mulia serta membawa ketenangan bagi orang di sekitar. Inilah makna haji yang mabrur. Sesuai peribahasa, perumpamaan orang haji haruslah berubah dari balok menjadi kusen, bukan dari balok tetap menjadi balok atau malah menjadi arang.

Semoga kita diberikan kemudahan dan kekuatan agar bisa menjaga semua ibadah sebelum, saat dan setelahnya. Sehingga bisa menggapai puncak kenikmatan beribadah. Amin…

+++++++

Pengajiab Ba’da Shubuh, Mesjid Raya Pulo Asem, Jakarta Timur, 9 Juni 2024, Penceramah Ust Ahmad Habibi Lc.

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ++Admal Syayid++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *