Kamis, 22 Feb 2024
Akhlaq IslamAqidah Islam / Tauhid

Muraqabah: Menghadirkan Rasa Diawasi Alloh

Menghadirkan Alloh

Salah satu fondasi iman yang harus dimiliki oleh muslim adalah adanya rasa ‘pengawasan’ oleh Alloh SWT dalam dirinya (muraqabah). Ibn Qayyim alJawziyah menjelaskan bahwa muraqabah adalah pengetahuan seseorang dan kemantapan keyakinan diri bahwa Alloh swt melihat gerak geriknya baik lahir maupun batin. Seseorang yang pandai menghadirkan rasa dalam dirinya bahwa Alloh swt melihat apa yang dikerjakan, diucapkan, dilihat dan didengarkan berarti sifat muraqabah telah melakat dalam dirinya.

Sifat Muraqabah menghubungkan hati dan diri seseorang dengan Alloh swt. Sifat ini sangatlah penting dan harus ada dalam diri masing-masing. Jika sifat ini lenyap, maka kontrol diri akan serta merta hilang, mengakibatkan keburukan dan kebinasaan serta rapuhnya tatanan sosial dan kemasyarakatan.

Parameter keimanan yang sebenar-benarnya terletak dari sifat muraqabah. Jangan berkata saya sudah mukmin, padahal belum pandai menghadirkan Alloh dalam diri, ucapan dan tindakan. Apalagi bertindak ‘seenaknya’ tanpa ada rasa takut akan siksa ilahi.

Sunguh Alloh swt maha mengetahui dan mengawasi. Semua gerak gerik dan jalan pikiran makhluk diketahui Alloh swt. Ia mengetahui isi hati dan pikiran, terlebih sesuatu yang berwujud lahiriah. Apa yang dilakukan tangan, kaki, mata, dan telinga semua sudah nyata dan terang di sisi Alloh. Jangankan yang terjadi saat ini, kejadian masa depan pun Alloh sudah mengetahui. Sesuatu yang terlintas dalam pikiran 5 atau 10 tahun mendatang Alloh pun sudah mengetahuinya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَىْءٌ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ

‘’Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit’’. (QS Ali-Imran-5)

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ

Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (QS Al Alaq 14)

Cakupan ilmu Alloh tidak hanya di dunia, perkataan orang kafir saat dibangkitkan di akhirat kelak, Alloh mengetahuinya,

قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا

Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” QS Yasin 52

Tidak ada istilah akan datang, semua nyata dalam ilmu ilahi. Alloh maha mengawasi atas segala sesuatu. Maka sikap merasa diawasi Alloh ini perlu dihadirkan oleh setiap orang di setiap waktu dan tempat kehidupan.  

Lalu, Jalan Apa yang harus ditempuh untuk menggapai Muraqabah?

Sifat muraqabah tidak akan ada dalam diri tanpa disertai usaha dan proses. Beberapa tingkatan yang harus dilakukan untuk menggapainya adalah sebagai berikut:

1. Memahami dan Mengamalkan Makna di Balik Asmaul Husna
 
Sifat muraqabah dapat disandingkan dengan proses memahami dan mengamalkan beberapa nama asmaul husna. Diantaranya adalah Ar Roqib (maha mengawasi), Al Hafidz (maha memelihara, menjaga), Al Alim (maha mengetahui ), As Syahid (maha menyaksikan), Al Basyir (maha melihat), As Sami (maha mendengar), dan lain sebagainya. Hadirkan makna asmaul husna dalam kehidupan.
 
2. Merealisasikan Konsep Ikhsan
 
Konsep ikhsan selaras dengan konsep muraqabah. Pengertiannya mengacu kepada wasiat nabi ﷺ untuk Muádz bin Jabal,
 

نْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَوْصِنِي. قَالَ : اعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ،

Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata, “Wahai Rasulullah berikanlah wasiat kepadaku !” Nabi menjawab, “Beribadahlah kepada Allah swt seolah-olah engkau melihat-Nya….

Begitu pula yang dijelaskan dalam hadist Jibril, dimana nabi ﷺ ditanya tentang ihsan dan beliau pun menjawabnya,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Untuk itu, hadirkan Alloh sebelum berbuat, dengan meluruskan niat karena Alloh. Hadirkan Alloh, ketika berbuat dan hadirkan Alloh setelah berbuat. Setelah melakukan ketaatan, puji lah Alloh karena ia telah membimbing ke jalan yang benar. Saat terjebak pada kesalahan, beristighfar-lah. Menyesali kenapa hamba lemah terjebak dalam dosa, sambil berharap Alloh mengampuni dan menghapus dosa yang dilakukan. Yakini, bahwa Alloh melihat shodaqoh, infaq, sujud dan ruku yang kita lakukan. Juga meyakini Alloh mengetahui saat kita melakukan maksiat.

3. Perbanyak Mengingat dan Menyebut Alloh dengan Lisan dan Hati.

Langkah ketiga, dengan banyak mengingat Alloh bisa menggapai sifat muraqabah. Manifestasinya rasa pengawasan hadir dalam setiap kesempatan di waktu kapanpun dan tempat manapun. Tidak lalai dengan keadaan dan terkesima dengan pujian lahiriah. Alloh lebih tahu siapa kita dan siapa yang paling bertaqwa. Rasa pengawasan hadir di saat sunyi sepi dan juga di saat keramaian. Sejengkal demi sejengkal untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ya Alloh tunjukilah kami ke jalan yang lurus…ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

++++++

Khutbah Jumat Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, 24 November 2023 Khatib Ustadz DR Aminullah

Tags:ikhsanmuraqabahpengawasan allohrasa diawasi


Baca Juga

Komentar

2 thoughts on “Muraqabah: Menghadirkan Rasa Diawasi Alloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *