Ngalap Berkah yang Sesuai Syar’i

By Nasehat Islam Last Updated On 20 May 2024 0 Comments
Ngalap Berkah dengan Membaca al-Quran
Ngalap Berkah dengan Membaca al-Quran

Kita sering mendengar istilah ngalap berkah di tengah masyarakat. Mengacu kepada aktivitas untuk mendapatkan kebaikan atau keberkahan. Bagaimana sesungguhnya Islam memandang hal ini? Dan bagaimana kita menyikapinya? Mari kita pelajari lebih lanjut terkait hal ini.

Arti dan Cakupan Ngalap Berkah

Ngalap berkah diambil kata barokah yang berarti penuh dan banyak kebaikan padanya. Kata barokah itu sendiri berasal dari kata birkah yakni penampungan atau kolam yang airnya penuh. Sehingga, barokah mengandung makna kebaikan ilahiah yang ada pada sesuatu. Dalam keseharian, kata itu juga sering diserap menjadi kata berkat atau besek.

Dalam ajaran islam, kebaikan ilahi pada sesuatu terdapat dalam banyak hal. Ia bisa mencakup keberkahan pada sosok (person), sifat, kegiatan atau tempat.

Sosok nabi ﷺ adalah berkah. Karena ia membawa manusia dari kegelapan menuju terang benderang. Sebagaimana Alloh berfirman bahwa Ia mengutus nabi Muhammad ﷺ sebagai berkah (karunia) untuk orang-orang beriman dari golongan mereka sendiri.

QS Ali Imran 164

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Begitu juga dengan sunnahnya. Ia termasuk perkara berkah. Mengikuti semua hal yang diperintah, dilarang bahkan yang mubah sekalipun dengan niat mencontoh nabi ﷺ , maka kita akan mendapatkan keberkahan dan pahala di sisi Alloh SWT. 

Penetapan berkah kepada seseorang, tempat atau sesuatu tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Haruslah disertai dengan dalil atau nash al-Quran dan hadits nabi ﷺ.

Contohnya Hajar Aswad yang ada di ka’bah masjid haram. Setiap muslim yang melakukan thawaf, disunahkan untuk mencium-nya jika mampu untuk mendapatkan keberkahan. Hal ini karena nabi ﷺ pernah menciumnya sehingga menjadi syariat yang juga harus dilakukan oleh umat islam.

Umar bin Khattab r.a pernah berkata

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim)

Begitu pula dengan rukun yamani yakni sudut kabah sebelum hajar aswad. Setiap muslim disunahkan menyentuhnya jika mampu. Hal ini untuk mendapat keberkahan karena mengikuti sunnah nabi.

Lihat juga  Hukum Menyembelih Untuk Selain Alloh
Ka’bah Tahun 1718
Ngalap Berkah yang Sesuai Syar’i

Seperti disebutkan diatas, keberkahan bisa didapatkan melalui sosok (person), sifat, kegiatan atau tempat. Sehingga, pintu-pintu keberkahan sangatlah mudah didapat di sekeliling kita. Dengan cara mengikuti sunnah nabi Muhammad ﷺ.

Sifat dan kegiatan yang baik termasuk berkah. Misalnya bersabar, bersyukur, istiqomah dalam ajaran yang lurus, mengerjakan sholat, zakat, menutup aurat, berjamaah di masjid, merapatkan shaff saat sholat berjamaah, datang di awal saat sholat jum’at, membaca al-Quran, dll. Semua adalah perkara yang membawa keberkahan kepada pelakunya. Dan itulah ngalap berkah yang sesuai syar’i.

Sebaliknya, menetapkan suatu benda, person, dan tempat yang padanya terdapat keberkahan tanpa ada dalil syar’i, itu akan menjadi persoalan bagi pelakunya. Saat ia meyakini bahwa padanya akan mendatangkan manfaat dan keberkahan, maka ia sudah menggantungkan kepada selain Alloh. Dan itu sudah termasuk kesyirikan.

Misalnya ngalap berkah kepada batu, pohon, keris, benda pusaka, makam keramat dan sejenisnya. Juga mengusap pilar-pilar masjid haram dan sudut-sudut kota Mekkah untuk mencari keberkahan.

Tradisi Orang Quraisy di Zaman Nabi

Tradisi ngalap berkah kepada ‘sesuatu’ sudah dilakukan oleh kaum Quraisy di zaman nabi ﷺ. Mereka selain menyembah Alloh, juga menyembah batu, pohon dan sejenisnya. Bahkan al-Quran menyebutkan secara khusus 3 berhala terbesar yang mereka sembah yaitu Latta, Uzza dan Manah. Mereka memuliakannya terutama saat ritual haji di Mekkah saat itu.

Alloh swt berfirman dalam QS an-Najm 19-20:

أَفَرَءَيْتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلْعُزَّىٰ

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza,

وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلْأُخْرَىٰٓ

Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?

Lata

Makna lata ada dua. Jika dibaca lata berarti batu besar putih yang dipahat. Ia di kelilingi bangunan untuk dimuliakan, letaknya di daerah Thoif. Jika di baca dengan tasdid, latta, mengandung arti orang sholeh yang mengaduk gandum. Lalu makanan itu dibagikan ke setiap jemaah haji.

Saat orang sholeh ini meninggal dunia, kuburannya banyak diziarahi orang. Orang-orang beritikaf (semedi) di kuburannya dan melakukan peribadatan.

Uzza

Uzza adalah pohon samr / samroh, terletak di antara Mekkah dan Thaif. Orang Quraisy sangat memuliakannya. Pohon itu dikasih tirai dan bangunan. Abu Sofyan, saat masih kafir, ketika perang uhud berkata, “Kami punya uzza sedangkan kalian tidak punya”. Maksudnya kami akan menang sedangkan kalian akan kalah.

Saat futuh mekkah di tahun ke-10 kenabian, rosul ﷺ mengutus Khalid bin Walid untuk menebang pohon uzza dan menghancurkan bangunannya.

Setelah melakukan, ia datang melapor kepada nabi. Nabi berkata, “Balik lagi karena kamu belum berbuat apa-apa”. Khalid bin Walid pun mendatangi kembali Uzza. Didapatinya jin perempuan dengan rambut terurai melempari pasir ke wajah dan rambutnya. Khalid pun membunuh jin tersebut dan melapor kembali kepada nabi. Dan nabi berkata, “Itulah Uzza”.

Manah

Lihat juga  Aqidah sebagai Induknya Ilmu Fiqih

Manah juga sangat dimuliakan oleh kaum Quraisy. Lokasinya berada di antara Mekkah dan Madinah.

Selain tradisi di atas, kaum Quraisy juga memiliki tradisi menggantungkan senjata di sebuah pohon sidr untuk mendapatkan keberkahan dengan cara semedi (itikaf) di dalamnya, yang dinamakan Dzatu Anwath. Dan nabi pun melarangnya.

Dzatu Anwath

Di saat perang hunain. Seorang sahabat yang baru masuk islam berkata kepada nabi, wahai rosul ﷺ buatkan kami Dzatu Anwath seperti dilakukan meraka. Nabi ﷺ pun berkata bahwa yang diucapkanya itu sama dengan yang diucapkan Bani Israil ke nabi Musa as. Yakni membuat sesembahan seperti orang lain membuat sesembahan (tasabbuh dalam aqidah).

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »

Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi)

QS al-A’raf 138

وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتَوْا۟ عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا۟ يَٰمُوسَى ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.

Itulah penjelasan singkat terkait ngalap berkah. Semoga kita bisa melakukannya sesuai syar’i. Bukan sesuatu yang menjurus kepada kesyirikan. Agar hidup kita sejalan dengan misi dakwah rosululloh ﷺ yaitu menghancurkan berhala, menjadikan Alloh semata yang diibadahi dan tidak mempersekutukan-Nya (musyrik).

+++++++

Pengajian Ba’da Shubuh 3 Maret 2024, Mesjid Nur Romadhan Pulo Asem Utara, Jakarta Timur. Penceramah Ust. Ja’far Shalih Lc.

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ++Admal Syayid++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *