Mari saling menasehati agar bisa merawat dan memupuk iman dalam diri dan rumah tangga. Kenapa? Karena Alloh selalu memanggil dengan panggilan “Wahai orang yang beriman” dalam beberapa ayat al-Quran. Menunjukkan, iman haruslah ada dalam diri dan keluarga agar bisa dekat dengan-Nya.
Terlebih, dalam salah satu ayat al-Quran, selain menyeru “Wahai orang yang beriman”, Alloh juga memerintahkan untuk menjaga dan menyelamatkan anak dan istri dari siksa api neraka. Ini menegaskan, iman selain harus ada dalam diri, juga harus hadir di dalam rumah tangga.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..(QS at-Tahrim 6)
Merujuk ayat di atas, seorang kepala keluarga memiliki kewajiban melindungi dan mengayomi seluruh anggota keluarganya agar memiliki iman yang kuat dan istiqomah berada di jalan-Nya (agama islam). Dengannya, semua akan selamat dan tidak tergelincir kepada keburukan dan kehinaan hidup (dosa, maksiat dan kesesatan).
Pentingnya menjaga iman seluruh anggota keluarga, dipertegas pula dengan ayat lain yang menyatakan bahwa seorang anak bisa menjadi fitnah (cobaan). Ia bisa terjatuh kepada keburukan, jika orang tua-nya tidak peduli dan perhatian terhadap imannya. Sungguh anak terlahir dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tuanya-lah yang bisa menjadikan dia seorang yahudi, nashrani atau majusi.
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS al-Anfal 28)
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Jadi, merawat iman dalam rumah tangga haruslah menjadi perhatian serius dan dibina selama-lamanya. Ketidak-pedulian terhadap hal ini akan mengakibatkan kesengsaraan hidup baik di dunia terlebih di akhirat.
Bagaimana Cara Merawat Iman dalam Rumah Tangga?
Merawat iman di dalam rumah tangga tidaklah cukup mengandalkan kekuatan, ketegasan dan kedisiplinan. Namun, setidaknya ada 2 hal utama yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki kecintaan terhadap ilmu agama
Seorang kepala keluarga haruslah memberi perhatian kepada ilmu agama (al-Quran, sunnah, tauhid, dll). Wujud nyatanya ia rajin menuntut ilmu syar’i, mendorong anggota keluarga lain ikut belajar agama serta menghidupkan suasana keagamaan di lingkungan rumah.
Dengan ilmu yang dimiliki, ia bisa mempertebal iman dan tangguh menghadapi tantangan, fitnah dan godaan hidup yang semakin berat. Seperti yang di-isyaratkan nabi ﷺ dan al-Quran berikut:
Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Muslim-Shahih
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS al-Baqoroh 120)
Selanjutnya, penguasaan terhadap ilmu agama dengan benar juga akan memiliki keutamaan dalam beberapa hal berikut ini:
-
Kualitas iman seseorang akan dipengaruhi seberapa kuat ia memiliki pemahaman agama. Tidak akan pernah sama ‘orang yang mengetahui’ dengan orang yang tidak mengetahui.
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS az-Zumar 9)
-
Penguasaan terhadap ilmu agama akan menjadi sebab seseorang memiliki kemuliaan (izzah) dan terjauh dari kehinaan.
وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ
Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS al-Hajj 18).
-
Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang benar akan teguh berada dalam kebenaran syariat islam (istiqomah) serta memiliki senjata untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang berasal dari musuh islam, syetan dan para pengikutnya.
Seperti perintah Alloh dalam beberapa ayat al-Quran berikut:
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.. (QS al-Maidah 48)
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu (QS al-Maidah 49)
فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (QS asy-syura 15)
ثُمَّ جَعَلْنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS al-Jatsiyah 18)
2. Perbanyak Berdoa dan Beramal Sholeh
Setelah membekali diri dan keluarga dengan ilmu agama yang shoheh, langkah berikutnya adalah memperbanyak berdo’a kepada Alloh dan melakukan amal sholeh. Iman tidak ada artinya jika tidak dibuktikan dengan amal yang berdasarkan ilmu kitabullah dan sunnah rosul ﷺ.
Mari kita berupaya sungguh-sungguh meningkatkan iman yang diakui Alloh. Tidak hanya pengakuan dan ucapan semata, namum kita buktikan dengan cinta kepada Alloh dan rosul di atas segalanya. Sehingga dalam rumah tangga kita akan tumbuh cahaya hidayah.
Bersegeralah kembali kepada Alloh (hijrah). Alloh akan selalu menunggu kedatangan kita untuk taubat. Kita sejatinya adalah para pendosa yang rentan terjatuh pada dosa dan maksiat. Namun, tidak ada dosa yang tidak diampuni di hadapan Alloh, kecuali dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Semoga Alloh anugerahkan hati kita, mau meminta maaf kepada- Nya. Karena Dia-lah Dzat yang maha pemaaf.
—-+++—
Dikutip dari khutbah Jum’at, 6 Desember 2024, Mesjid Nur Romadhan Puloasem Utara Jakarta Timur. Khatib Ust Umar Lathief.

Leave a Reply