Kamis, 22 Feb 2024
Romadhan

Romadhan: Momentum Menjadi Lebih Baik

Saatnya berubah

Mari menjadikan romadhan sebagai momentum untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

Dikisahkan ketika Nabi menaiki mimbar, pada tangga pertama beliau berucap âmîn. Pada tangga kedua dan ketiga beliau juga berucap âmîn. Para sahabat akhirnya bertanya. Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan âmîn tiga kali. Nabi menjelaskan: Pada tangga pertama tadi, Jibril mendatangiku dan mengatakan: 

 شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celaka orang yang menjumpai Romadhan dan melewatinya tapi dosa-dosanya tidak diampuni”.

Maka aku mengucapkan ‘âmîn’.

Pada tangga kedua Jibril berkata: 

 شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

Celaka orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya tapi hal itu tidak bisa memasukkannya ke surga.

Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. Pada tangga ketiga Jibril berkata: 

 شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ

Celaka orang yang ketika namamu disebut di dekatnya, tapi ia tidak bershalawat padamu.

Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. (Imam al-Bukhari)

Salah satu doa malaikat jibril yang di aminkan nabi Muhammad saw dalam hadits di atas adalah, “Celakalah orang yang bertemu dengan Romadhan, dan dia tidak mendapatkan ampunan”

Pertanyaannya, Siapakah Orang Yang Mendapat Ampunan Itu?

Orang yang mendapat ampunan tentunya mereka yang meminta ampun. Dan orang yang meminta ampun ialah orang yang menyadari bahwa dirinya merasa bersalah. Umpama orang yang pergi ke dokter, ia pergi karena menyadari dirinya sakit. Jadi orang yang minta ampun itu ialah orang-orang yang sadar bahwa dia melakukan kesalahan.

Untuk itu marilah kita merenung sejenak melakukan introspeksi (muhasabah) untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan apa yang sudah dilakukan dan harus diperbaiki. Kita evaluasi bagaimana hubungan kita dengan Alloh. Apakah sholat yang dilakukan sudah benar atau belum, apakah masih dikalahkan oleh meeting, jual beli atau bisnis?, Apakah zakat kita sudah ditunaikan?.

Bagaimana pula hubungan kita dengan manusia (orang tua, tetangga), apakah makanan yang kita makan halal? dan lain sebagainya. Kalau kita sudah mampu mendefinisikan kesalahan-kesalahan,  lalu apa yang harus kita lakukan?

Menyadari bahwa kita memiliki kesalahan, ternyata belum mampu menyelesaikan masalah. Tahapan ini baru bisa menghentikan namun belum bisa menyeimbangkan atau menghapuskan. Usaha lain yang perlu dilakukan untuk menghilangkan dosa itu ialah amal shaleh. Amal sholehlah yang akan menghapuskan kesalahan karena sesuai dengan sabda nabi,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Untuk itu, diperlukan keberanian diri untuk mengoreksi total perjalanan hidup yang telah kita lalui agar menjadi lebik baik di kemudian hari. Jadikan romadhan sebagai momentum untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik untuk menebus kesalahan masa lalu. Sehingga di akhir romadhan, kita akan terlahir kembali (reborn) dengan pola pikir, sikap mental, pola hidup, semangat dan keimanan yang baru dan lebih baik dari sebelumnya.

++++++

Dikutip dari pengajian ahad, 23 Agustus 2009, Mesjid Darussalam Kota Wisata

Tags:hijrahpuasaRomadhan


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *