Telah kita pahami, kematian / azal adalah sesuatu yang pasti terjadi. Kita ingin menjemputnya di tempat dan waktu terbaik (khusnul khotimah). Namun, tahukah kita, bahwa untuk menggapainya, tidaklah mudah. Kenapa? karena manusia tercipta tidak bersih dari ‘dosa dan khilaf’. Selama menjadi manusia, pasti pernah keliru dan lupa. Maka, upaya untuk membersihkan diri agar bisa menggapai kematian terbaik adalah meminta ampun / taubat di setiap denyut kehidupan.
Sungguh Alloh maha penyayang dan pemaaf. Dia akan menerima permohonan ampun manusia, selama ia taubat dan ruhnya belum sampai di tenggorokan. Maka bersegeralah memohon ampunan / taubat, mumpung kita masih diberi jatah kehidupan.
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
”Sesungguhnya Allāh menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR At Tirmidzi)
Memohon Ampun di Setiap Saat
Dalam banyak ritual ibadah, kita dianjurkan memohon ampun kepada Alloh. Bacaan sholat saat duduk di antara dua sujud, ada kalimat ‘memohon ampun’. Setelah sholat, dianjurkan mengucapkan istigfar tiga kali. Bahkan dalam ibadah di penghujung malam (tahajud), pun dianjurkan memohon ampun.
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar (QS az-zariyat 18)

Semua ini adalah bentuk kasih sayang Alloh. Menjadikan beban ibadah sebagai sarana memenuhi hajat manusia, yakni mensucikan diri dari noda dan dosa. Andai tidak ada permohonan ampun dalam ritual ibadah, niscaya manusia akan diliputi banyak dosa yang tak terhapus. Ujungnya ia akan jauh dari kasih sayang Alloh.
Begitu pentingnya permohonan ampun ini, Alloh bahkan menyuruh kita ‘bersegera dan berlomba-lomba’. Jangan sampai menunda-nunda.
Perhatikan firman Alloh dalam ayat berikut:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS ali-Imran 133)
سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS al-Hadid 21)
Alloh akan Memberi Ampunan bagi yang Taubat
Alloh akan memberikan ampunan atas dosa yang diperbuat ‘semuanya’. Kecuali dalam dua perkara yakni 1) dosa yang berhubungan dengan manusia dan 2) seseorang yang berbuat dosa lalu ia bangga dan menyebut-menyebut (mengumumkan) dosanya (mujahir).
Perhatikan firman Alloh sebagai berikut:
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS az-Zumar 53)
juga hadits qudsi berikut ini:
عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً
Dari Anas bin Mâlik ra ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh ﷺ bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi]
Terkait dengan dosa syirik, Alloh pun akan mengampuni selama pelakunya taubat. Dalam ayat QS an-Nisa 48, Alloh menggunakan kata LA لَا yang bermakna ‘tidak’ yang bersifat temporari (tidak selamanya), bukan LAN yang berarti ‘tidak selama-lamanya’.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)
Begitu pula jika kita perhatikan QS al-Furqon 68-71, dikatakan bahwa pelaku syirik, membunuh dan berzina akan mendapatkan balasan setimpal. Namu jika ia taubat, beriman dan beramal sholeh, maka kejahatannya akan dibalas dengan kebajikan.
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS al-Furqon 70)
Dari uraian di atas kita bisa memahami, sungguh Alloh maha pengampun. Ia akan senantiasa memberikan ampunan di setiap detak kehidupan manusia. Meskipun manusia berkali-kali melakukan dosa dan kembali memohon ampun kepada-Nya. Hal ini diperkuat dengan hadits Qudsi sebagai berikut:
أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni.
Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni.
Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’ (HR. Bukhari)
Jadi, sebelum kematian menjemput dan selama kita masih hidup, tidak ada dosa yang tidak dimaafkan. Datangkah kepada Alloh untuk taubat. Surga diperuntukkan bagi orang yang tidak ada noktah dosa. Nabi Adam as terusir dari surga karena ia melakukan dosa.
Lima Syarat Taubat
Agar taubat kita diterima Alloh dan memberi dampak positif dalam kehidupan, merujuk pendapat para ulama, terdapat lima syarat yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut:
-
Berhenti secara totalitas dari dosa yang pernah diperbuat
-
Ada rasa penyesalan karena telah melakukan dosa
-
Berniat / ber-azzam untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari selamanya
-
Ikhlas dalam memohon ampun (taubat)
-
Mengganti dengan amal shaleh setelahnya.

Jadi, ikutilah taubat yang telah dilakukan dengan amal sholeh dengan sungguh-sungguh. Karena orang yang beramal sholeh, baginya akan mendapatkan beberapa keutamaan yakni: 1) pahala yang berlipat ganda, 2) kehidupan yang baik juga 3) menghapus dosa yang telah perbuat.
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl 97)
Terakhir, semoga kita dan orang-orang yang dicintai dibersihkan atas dosa yang telah diperbuat. Diberikan kekuatan memperbanyak istigfar, taubat dan beramal sholeh setiap saat secara konsisten. Agar kita bisa menggapai kematian yang dirindukan. Aamin…
++++——-++++
Dikutip dari pengajian ba’da Shubuh, 8 Desember 2024, Mesjid Nur Romadhan Pulo Asem Utara Jakarta Timur. Penceramah Ust. DR Wahid Rahman MA.

Leave a Reply