Kamis, 22 Feb 2024
Akhlaq IslamAqidah Islam / Tauhid

Sudahkan Kita Menjadi Orang Baik ?

Sudahkan menjadi orang baik?

Kita tentu ingin menjadi orang baik. Orang yang memberikan kedamaian, keberkahan dan kasih sayang kepada lingkungan sekitar. Semua potensi yang ada dalam diri baik berupa kepintaran, kekuasaan, kekayaan, kecakapan, dan lain-lain menjadi sumber inspirasi dan memberi manfaat. Bukan menjadi sumber bencana dan kedholiman.

Untuk menjadi orang baik, tentu harus mengetahui parameternya yang bersumber dari risalah agama. Mengacu pada hadist nabi, ukuran kebaikan seseorang, ternyata ditentukan oleh tingkat pemahaman yang benar terhadap agama. Semakin tinggi pemahaman dan pengamalan seseorang terhadap agama, maka semakin tinggi pula kedudukan orang itu dalam kebaikan.

Dari Mu’awiyah r.a, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadist diatas menjadi dalil, bahwa ukuran orang baik, ditentukan saat memiliki pemahaman yang mendalam terhadap urusan pokok agama. Dan dengannya ia memiliki keagungan dan kemuliaan di sisi Alloh SWT.

Apa saja pokok ilmu agama yang harus dipahami dan diamalkan?

Pokok ilmu agama islam yang harus dipahami dan diamalkan bisa merujuk pada hadits Jibril, saat ia datang menyerupai laki-laki berpakaian putih dan berambut hitam, duduk dekat bersama nabi ﷺ seraya bertanya dan membenarkan 3 prinsip dasar beragama, yaitu iman, islam dan ikhsan.

Berdasarkan 2 hadist di atas, maka yang menjadi kriteria kebaikan dunia dan akhirat yakni seseorang yang mempunyai pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan dari 3 hal pokok dalam agama berupa keimanan, syariah dan akhlaq.

1. Keimanan
 
Hal utama yang harus dimiliki agar menjadi orang baik adalah mengetahui apa itu iman dan fungsinya dalam kehidupan. Cakupan iman tidak sekedar ‘percaya’. Karena kalau sekedar ‘percaya’, Iblis sebagai makhluk terkutuk percaya kepada Alloh SWT. Iblis, kalau ukurannya percaya, lebih beriman karena pernah bertemu dan dialog dengan Alloh. Saat Iblis di perintahkan bersujud kepada Adam, ia membangkang karena merasa dirinya lebih baik tercipta dari api sedangkan Adam dari tanah. Lalu iblis berkata dengan pengakuan kepada Alloh SWT dengan kalimat Ya Tuhanku…
 

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. QS al Hijr 39

Iman, bukan sebatas ‘percaya’, namun harus mencakup keyakinan yang dibenarkan dalam hati, kelihatan dalam ungkapan / pembicaraan, serta dibuktikan dalam tindakan. Ia mencakup semua aspek kehidupan baik bersifat individu maupun sosial. Iman tidak hanya di mesjid namun mewarnai kehidupan berbisnis, berpolitik, bermasyarakat, pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya. Ujungnya menjadi sarana mengabdi kepada Alloh swt yang bernilai ibadah.

Saat iman sekedar ‘percaya’ atau bersifat simbolik (misal Islam KTP, bersumpah di atas Quran, dll), bisa jadi output yang dihasilkan lebih jahat dari Iblis. Tidak merasa malu terhadap kesalahan yang dilakukan, menipu orang lain, bersifat sombong, mendholimi serta sifat keburukan lainnya.

2. Syariat
 
Hal kedua yang harus dipahami dan diamalkan untuk menjadi orang baik adalah Syariat agama. Cakupannya semua tata cara kehidupan yang berlandaskan keinginan Alloh dan dicontohkan rosululloh ﷺ. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali bahkan sampai meninggal dunia dan setelahnya.
 

3. Akhlaq

Kata akhlaq dari bahasa Arab yaitu khalaqa-yahluqu, artinya menciptakan. Dari akar kata ini pula ada kata makhluk (yang diciptakan) dan kata khalik (pencipta), maka akhlak berarti segala sikap dan tingkah laku manusia yang datang dari pencipta (Allah swt). Merujuk pada hadits nabi ﷺ, sumber sikap dan tingkah laku tersebut adalah hati.

لاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlaq bersumber dari hati seorang makhluk. Cakupannya semua yang ada dalam isi hati, pikiran, ucapan, perbuatan, kebiasaan, karakter, dan sikap dari setiap makhluq. Akhlaq yang baik harus sesuai dengan tuntutan syariat agama.

Demikianlah penjelasan 3 paramater utama untuk bisa menjadi orang baik. Pemahaman yang perlu digapai dengan ikhtiar maksimal dan terus menerus. Tujuan utamanya terciptanya rahmat dan kasih sayang dalam segala aspek kehidupan yang selaras dengan tujuan risalah kenabian.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam” [QS. Al-Anbiyâ 107].

++++++

Pengajian Shubuh, 26 November 2023, Mesjid Al-Hurriyah Pulo Asem Jakarta Timur, Penceramah KH Faisal M Ali Nurdin Lc MA).

——————————————————++++

Hadits Jibril selengkapnya:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.

Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”

Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”

Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah. saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8]

 

Tags:akhlaqImanorang baiksyariah


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *