Kamis, 22 Feb 2024
Aqidah Islam / Tauhid

Ziarah Kubur Yang Diperbolehkan

Sikap terhadap kuburan

Sesuatu yang menarik jika bicara mengenai kuburan. Betapa tidak, banyak orang terjerumus ke dalam syirik gara-gara kuburan. Begitu besarnya potensi ziarah kubur menyeret ke dalam kesyirikan, sampai-sampai rosul pun melarangnya di awal periode dakwah karena aqidah umat masih lemah. Baru, setelah akidah kuat, perintah ziarah kubur turun. 

Ziarah kubur kalau tidak dasari dengan aqidah yang kuat sangatlah beresiko, apalagi ziarah kubur orang-orang yang sholeh. Mulanya, timbul keyakinan bahwa beribadah di kuburan itu lebih utama dibanding tempat lainnya. Lalu bisa saja dengan serta merta meminta hajat atau kepentingan kepada penghuni kubur, misalnya mencari keberkahan, rizki, pangkat, jodoh, dan lain sebagainya. Dan ini sudah masuk ke dalam syirik.

Pertanyaannya, perintah ziarah kubur seperti apa yang yang diperbolehkan rosul?

Untuk menjawab hal ini, alangkah baiknya mencermati beberapa peristiwa di zaman rosul terkait dengan ziarah kubur. Rosul pernah meminta izin kepada Alloh untuk berziarah ke kuburan ibunya (Siti Aminah) dan diizinkan. Rosul pernah diperintahkan berziarah ke salah satu kuburan sahabat untuk mendoakannya. Aisyah r.a pernah berziarah ke kuburan saudaranya. Rosul pernah melihat seorang ibu berziarah ke kuburan anaknya dan menangis, lalu rosul berkata, “Bersabarlah wahai ibu…”.

Dari beberapa peristiwa ini, kita bisa menyimpulkan bahwa boleh hukumnya melakukan ziarah ke kuburan sanak famili dan orang-orang yang dicintai untuk mengingat negeri akhirat dan mendoakan ahli kubur. Sebaliknya dari peristiwa di atas, tidak ada dasar perintah untuk ziarah ke kuburan keramat atau orang-orang yang sholeh. Bahkan, dalam hadits lain rosul melarang berkumpul-kumpul di kuburan beliau. Berkumpul di makam rosul yang agung pun di larang, apalagi di makam orang-orang selain rosul, yang secara tingkatan jauh di bawah rosul.

Dalam hadits lain rosul pernah bersabda,

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga Masjid. Yaitu Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Al Aqsa (di Yerusalem).” (HR Muslim)

Implikasi dari larangan ini, saat pergi ke mesjid Medinah pun tidak diperkenankan berniat untuk mengunjungi makam nabi. Namun haruslah berniat beribadah di mesjid Nabawi, walaupun saat berada di sana melakukan ziarah kubur nabi. Perjalanan sengaja ke makam rosul pun tidak diperbolehkan, apalagi dengan sengaja melakukan perjalanan jauh ke makam-makam keramat.

Pertanyaan lebih lanjut, Sikap seperti apa yang seharusnya kita miliki terkait dengan ziarah kubur?

Jawabanya, sikap PERTENGAHAN yang dibutuhkan, yakni tidak berlebihan dalam menyikapi kubur dan tidak juga menghinakan kuburan. Hal ini sejalan dengan salah satu hadits nabi, 

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

“Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya” (HR. Muslim)

Larangan pertama terkait dengan sikap berlebihan atau mengkultuskan (sholat di atas kubur) dan larangan kedua terkait dengan sikap menghinakan misalnya menginjak-injak dengan sengaja.

Dalam hadits lain rosul bersabda,

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah” (HR. Bukhari Muslim)

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi kuburan terutama yang keramat, agar terhindar dari bahaya kesyirikan. Sebaliknya, menjadikan kuburan sebagai sarana mengingat kematian dan negeri akhirat yang akhirnya meningkatkan keimanan. Amien..

++++++

Khutbah Jum’at, 30 April 2010, Mesjid PT. Toyota-Astra Motor

Tags:artikel islamkubur keramatsyirikziarah kubur


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *