Kamis, 22 Feb 2024
Aqidah Islam / Tauhid

Memahami Makna Kemerdekaan Yang Hakiki

Kemerdekaan yang hakiki

Sejak tahun 1945 bangsa Indonesia telah menjadi bangsa merdeka. Dalam usia yang cukup ‘dewasa’ selayaknya seluruh komponen bangsa mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan sebenar-benarnya. Setidaknya ada dua dimensi syukur yang harus ada. Pertama, mengakui yang memberi nikmat kemerdekaan adalah Alloh SWT dan yang kedua menggunakan nikmat ini dalam rangka taat kepada Alloh SWT.

Sebagaimana para pejuang dahulu, mereka telah mengakui bahwa kemerdekaan yang telah diraih ini atas berkat rahmat Alloh SWT (Pembukaan UUD 1945). Pengakuan yang jujur, bahwa kemerdekaan atau kesuksesan hidup adalah karunia dari Alloh SWT. 

Lantas, sudahkan kita mensyukuri nikmat ini?

Rasanya, kita masih belum maksimal mewujudkan rasa syukur yang sebenarnya. Kekayaan alam Indonesia yang disebutkan oleh seorang pengelana arab, sebagai surga Alloh di muka bumi, masih belum dikelola dengan optimal dan masih jauh dari harapan. Menjadi tantangan seluruh komponen bangsa untuk berusaha menjadi hamba yang bertaqwa kepada Alloh. Sehingga Alloh menjadikan negeri ini diberkahi dari langit dan bumi.

Menjadi Manusia Merdeka

Bagaimana Islam melihat kemerdekaan yang sesungguhnya?, untuk memahaminya ada baiknya kita menyimak kisah seorang sahabat saat ‘menaklukkan’ sebuah penguasa (musuh). Sang penguasa bertanya, “Kenapa anda datang kemari?“, Sahabat itu menjawab, “Kami datang bukan untuk merampas kekayaan kalian, namun kami datang dengan misi suci yakni memerdekakan umat manusia dari penyembahan kepada selain Alloh.”

Itulah makna kemerdekaan yang hakikat menurut versi Islam. Yang dimaksud merdeka adalah bebasnya umat manusia dari penyembahan kepada selain Alloh SWT.

Sejarah mencatat, banyak sekali manusia yang menghamba kepada selain Alloh, salah satunya dunia dan hawa nafsu. Menjadikan dunia segala-galanya, meyakini dunia dapat mengekalkannya. Dunia mengalahkan ibadah kepada Alloh, dan dunia mendominasi seluruh kehidupan manusia. 

Mindset yang tumbuh adalah paham sekularisme atau kedisini kinian. Mengejar kekayaan (wealth), kekuasaaan (power), kecantikan (beauty), dan popularitas (popularity) untuk kepentingan sesaat di dunia, bukan perspektif jauh negeri akhirat. Islam mengajarkan taklukkanlah dunia dan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk menuju taqwa, bukan dunia yang mencengkram hati.

Al-Quran juga menyebutkan ada sebagian manusia yang menghamba kepada hamba nafsu. Apa yang diinginkan hawa nafsu selalu dituruti. Sehingga al-Quran menyebutkan orang yang demikian akan menjadi hina, bahkan lebih hina dari binatang.

Al-Furqon 43-44

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلً

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Jadi, ketika manusia masih menghamba kepada selain Alloh, maka hakikatnya dirinya belum merdeka, meskipun secara fisik telah merdeka dari penjajahan.

++++++

Kuliah Tarawih, 17 Agustus 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber: Ahmad Kusyairi Suhail MA”

Tags:hawa nafsukemerdekaanmanusia merdeka


Baca Juga

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *