Pelajaran dari Pembukaan Surat ‘ABASA

By Nasehat Islam Last Updated On 18 November 2023 1 Comment
Pelajaran hidup
Pelajaran hidup

Salah satu isi dalam al-Quran adalah surat ‘ABASA عَبَسَ, artinya bermuka masam. Ayat pembukaannya adalah sebagai berikut:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ

أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). 4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?…

Kata عَبَسَ ‘ABASA, yang berarti BERMUKA MASAM, menjadi nama dari keseluruhan surat ini. Dalam ilmu al-Quran, nama surat adalah sesuatu yang ditentukan langsung oleh Alloh, bukan hasil ijtihad nabi   ﷺ ataupun sahabat.

Sehingga, pasti ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari istilah atau peristiwa yang terkait dengan عَبَسَ ‘ABASA (Bermuka Masam) itu. Dan karena surat ‘ABASA عَبَسَ ‘termasuk Makkiyah, maka pelajaran yang bisa diambil lebih terkait dengan pengembangan mindset (aqidah) dan berperilaku dalam keseharian (Akhlaq).

Salah satu pelajaran itu adalah sebagai berikut:

1. Hakikat Timbangan / Tolak ukur / Paradigma / Barometer yang Mutlak

Sebab turunnya ayat di atas, saat rosul ﷺ sedang menyampaikan islam di hadapan pimpinan elit kaum qurisy, tiba-tiba datanglah seorang buta, dan bertanya, Ya Rosul, ajari aku dari sebagian yang engkau telah diajari Alloh!. Nabi ﷺ tidak menjawab karena beliau sedang sibuk menghadapi kaum elit quraisy. Nabi ﷺ bermuka masam dan berpaling dari orang buta itu. Dan karenanya, nabi ﷺ ditegur Alloh SWT.

Berdasarkan keterangan di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa timbangan / tolak ukur / paradigma / barometer yang hakikat, datangnya dari Alloh SWT, bukan hasil ijtihad manusia, atau nabi ﷺ sekalipun. Hal ini sangatlah penting terutama dalam menentukan sikap / prioritas yang perlu kita ambil.

Berdasarkan ukuran logika biasa, sikap nabi ﷺ yang memprioritaskan kaum elit Quraisy dibandingkan orang buta sangatlah dimaklumi. Karena jika kaum elit tersebut berhasil masuk Islam, maka akan berdampak signifikan untuk kesuksesan dakwah di masa depan.

Ternyata, Alloh berkata lain. Alloh SWT menegur nabi ﷺ agar lebih memperhatikan orang buta yang memiliki totalitas hidup buat agama dibanding kaum elit tersebut. Kenapa?, karena yang menjadi barometer Alloh bukanlah strata sosial, namun kualitas komitmen diri terhadap dakwah.

Lihat juga  Orang Taubat: Dikejar Ular Kepala Sembilan

Sebagai manusia kita diberikan karunia berupa akal yang bisa digunakan untuk ijtihad. Namun, jika berhadapan dengan wahyu ilahi, maka akal itu harus tunduk kepadanya. Artinya, tidak ada ijtihad ditempat yang sudah ada dalil (nash)-nya. 

#2. Urgensi Teguran dalam Pendidikan

Pelajaran kedua yang bisa kita ambil pelajaran dari pembukaan surat ‘ABASA adalah, teguran merupakan sarana pembinaan untuk menjadi lebih baik Menjadi Lebih Baik.  Selain ayat diatas, dalam ayat lain Alloh SWT menegur Nabi Muhammad ﷺ untuk beberapa perkara.

Alloh menegur nabi ﷺ, saat beliau tidak akan makan madu demi menyenangkan istrinya (QS At-Tahrim 1) dan Alloh menegur nabi ﷺ saat beliau mengizinkan orang munafiq tidak ikut perang (QS At-Taubah 43).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِى مَرْضَاتَ أَزْوَٰجِكَ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS at-Tahrim 1)

عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَٰذِبِينَ

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (QS at-Taubah 43)

Secara logika, manusia terbaik saja ditegur Alloh dan disampaikan ke seluruh dunia sepanjang masa, apalagi kita. Jadi, akan menjadi masalah, jika kita tidak memiliki kesiapan menerima teguran apalagi teguran yang datangnya dari Alloh SWT dan Nabi ﷺ.

#3. Menegur Bukan Untuk Mengadili

Teguran yang disampaikan Alloh dalam pembukaan surat ‘ABASA diatas sangatlah tegas, namun disampaikan dengan indah dan penuh kelembutan. Tidak bersifat mengadili dan mempermalukan.

Di awal ayat, Alloh menggunakan orang ketiga untuk menyatakan bermuka masam, “Dia (Muhammad) bermuka masam”, bukan menggunakan kata KAMU. Baru di ayat ketiga Alloh menggunakan kata KAMU (Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya). Begitupula saat Alloh menegur dalam ayat lain, DIA menggunakan kalimat WAHAI Nabi, bukan kalimat langsung, KAMU.

Lihat juga  Tafsir Quran Surat Al-Falaq (Shubuh)

Pelajaran yang bisa kita ambil, saat menegur orang, awalilah dengan panggilan yang baik, agar orang yang ditegur mau menerima teguran kita.

++++++

Dikutip dari Pengajian Ahad, 10 Oktober 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, Narasumber: DR. Ahzami Samiun Jazuli MA.

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ++Admal Syayid++

One thought on “Pelajaran dari Pembukaan Surat ‘ABASA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *