Adab Menasehati Orang Lain

By Nasehat Islam Last Updated On 13 May 2024 0 Comments
Adab Menasehati Orang Lain Dalam Islam
Adab Menasehati Orang Lain Dalam Islam

Agama adalah nasehat. Setiap kita perlu nasehat. Karena manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, maka nasehat adalah sebuah keniscayaan. Banyak orang takut menerima nasehat. Namun tidak sedikit pula orang salah memberi nasehat. Untuk itu, agar memberikan kebaikan, kita perlu memperhatikan adab menasehati orang lain.

Harapannya, nasehat yang disampaikan tidak menimbulkan perselisihan atau perdebatan yang tidak produktif, atau malah merusak persaudaraan sesama muslim. 

Mari kita pelajari adab menasehati, dimulai dari pentingnya adab / akhlak dalam ajaran Islam, pentingnya saling memberi nasehat dalam kebaikan, serta bagaimana adab saat kita memberi nasehat kepada orang lain.

1. Pentingnya Adab / Akhlak Islam

Seperti halnya aqidah, islam memandang adab / akhlak sebagai sesuatu yang sangat penting. Tidak sedikit orang lebih mengedepankan konteks syariah namun lupa terhadap adab. Padahal, tidak ada satu amalan ibadah, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yang di dalamnya tidak ada unsur adab.

Berikut adalah beberapa rujukan yang menyatakan pentingnya kita ber-akhlak yang baik, yakni sebagai berikut:

  • Tidak ada satu amalan yang memberatkan timbangan seorang mukmin di hari kiamat melebihi akhlak yang baik

مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik” (HR Tirmidzi)

  • Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya sebagai penyempurna akhlak yang sudah ada

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

  • Akhlaq adalah salah satu dari tiga tugas kenabian

Disebutkan dalam QS al-Jumu’ah 2, tugas kenabian adalah: membacakan ayat al-Quran, mensucikan mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah (sunnah). Para ulama menafsirkan bahwa ‘mensucikan’ artinya mengajarkan akhlak.

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

  • Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-nya

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmidzi)

  • Akhlak adalah perkara yang menyebabkan seseorang masuk surga atau neraka

 سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Rasulullah ﷺ ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

  • Akhlak yang baik adalah jaminan untuk masuknya seseorang ke surga

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” (HR Bukhori)

  • Karena akhlak, seseorang akan mendapatkan hadiah rumah di surga yang paling tinggi

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ. رواه ابوداود.

Lihat juga  5 Ciri Orang Taqwa Yang Perlu Kita Pahami

Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (H.R. Abu Daud).

  • Pahala ibadah (sholat, puasa, zakat, dll) akan rusak karena jeleknya akhlak

سُوءُ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

Akhlak yang buruk merusak amal kebaikan sepeti cuka merusak madu” (HR Ibnu Majah)

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

Terdapat tiga kelompok yang shalatnya tidak terangkat meskipun hanya sejengkal dari atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah SWT). Ketiga golongan tersebut pertama, orang yang mengimami sebuah kamu akan tetapi kaum itu membencinya. Kedua, istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya. Ketiga, dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan).” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

2. Nasehat dalam Kebaikan

Ajaran islam menekankan agar kita saling memberi nasehat dalam kebaikan. Dalam al-Quran disebutkan bahwa memberi nasehat adalah salah satu fondasi untuk menggapai keuntungan dunia dan akhirat. Karena nasehat laksana air yang bisa menyuburkan tanaman. Ia bisa menghidupkan hati yang mati.

QS al-Ashr 1-3

وَٱلْعَصْرِ

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Demi masa

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran

Begitu pula, dalam QS al-Anfal 2 dijelaskan bahwa ciri orang beriman adalah saat dibacakan ayat-ayat-Nya, maka imannya akan bertambah. Ulama menafsirkan bahwa dibacakan ayat-ayat-Nya adalah aktivitas yang bersifat pasif yakni menerima nasehat.

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا

“… dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)…”

Sahabat Umar bin Khattab, seseorang yang dekat dengan nabi , amirul mukminin, ibadahnya luar biasa, hapal al-Quran, dijuluki al-Faruq (tegas membedakan hak dan bathil) selalu rindu mendapatkan nasehat. Dikisahkan beliau mendatangi sahabat Ubay bin Ka’ab, meminta nasehat tentang taqwa.

Umar ra. bertanya kepada Ubay, “Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?”

Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” lanjut Ubay bertanya. “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,” jawab Umar. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat takwa

3. Adab Menasehati Orang Lain

Agar menasehati orang lain memberikan dampak kebaikan, maka panduannya bisa merujuk pada firman Alloh SWT QS an-Nahl 125, sebagai berikut:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِوَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Ayat di atas, memberikan panduan adab menasehati, yakni sebagai berikut:

  • Nasehat haruslah berdasarkan Hikmah (Ilmu)

Memberi nasehat haruslah berdasarkan ilmu, dalil atau hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan perdasar opini atau pendapat pribadi.

  • Menggunakan metodologi yang tepat (Pelajaran yang Baik)
Lihat juga  Penyesalan yang Dialami Sebagian Orang

Kita harus mengerti metode dalam memberi nasehat, agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan benar (bukan menjadi noise). Nabi telah memberi banyak pelajaran metodologi saat memberikan nasehat. Contohnya beliau memberikan analogi lemparan dua batu saat menerangkan angan dan kematian (Lampiran#1). Juga analogi persegi empat saat menerangkan hakikat kehidupan dan kematian yang dialami manusia (Lampiran#2).

  • Gunakan diksi / kata yang baik

Tidak ada isi hadits yang menggunakan kata yang tidak baik. Saat memberi nasehat, janganlah lepas dari ingat kepada Alloh agar terhindar dari kata-kata yang mudharat. Buatlah orang senyum bukan menangis

  • Pakailah Intonasi yang tepat

Lunakkanlah suara saat memberi nasehat. Seburuk-buruknya suara adalah suara keledai. Intonasi suara akan mempengaruhi tangkapan orang. Saat Alloh memerintahkan nabi Musa as dan nabi Harun as berdakwah ke Firaun, perintahnya menggunakan kata-kata yang lemah lembut.

QS Thoha 44

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”

  • Lakukan pada waktu dan tempat yang tepat.

Memberi nasehat pada waktu dan tempat yang tidak tepat akan menambah masalah. Bersabarlah untuk mencari waktu dan tempat yang tepat.

Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”. (Imam Syafi’i)

  • Hindari berdebat yang tidak produktif

Saat orang yang dinasehati menolak ilmu atau dalil yang disampaikan, maka tinggalkanlah. Namun jika ia memberikan dalil yang kuat, maka terimalah sebagai suatu ikhtilaf (perbedaan pendapat). Selesai…

Demikian uraian adab menasehati orang lain, semoga kita bisa mengamalkannya.

+++++++

Pengajian Ba’da Shubuh, 12 Mei 2024, Mesjid Nur Romadhan Pulo Asem Utara Jakarta Timur, Penceramah Ust DR Wahid Rahman MA

+++++++

Lampiran #1

Hadits nabi Muhammad

هَلْ تَدْرُونَ مَا هَذِهِ وَمَا هَذِهِ وَرَمَى بِحَصَاتَيْنِ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَاكَ الْأَمَلُ وَهَذَاكَ الْأَجَلُ

Tahukah kalian apakah ini dan apakah ini?” -beliau sambil melempar dua batu kerikil, – para sahabat menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, ” beliau bersabda: “Yang ini seperti cita-cita dan yang ini seperti ajal (HR Tirmidzi)

Lampiran #2

Hadits nabi Muhammad

وَعَنْ ابنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعاً، وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجَاً مِنْهُ، وَخَطَّ خُطَطاً صِغَاراً إِِلَى هَذَا الَّذِي فِي الوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الوَسَطِ، فَقَالَ: هَذَا الإِنسَانُ، وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطاً بِهِ أو قَد أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الأَعْرَاضُ، فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا، نَهَشَهُ هَذَا، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا. رَوَاهُ البُخَارِيّ.

Dari Ibnu Mas’ud—ra—, ia berkata: “Nabi ﷺ menggambar persegi empat dan membuat garis yang keluar darinya di tengahnya. Beliau juga membuat garis-garis kecil ke arah garis yang berada di tengah tersebut dari arah sampingnya. Beliau bersabda ﷺ: “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajalnya, meliputinya atau telah mengelilinginya. Sedangkan (garis) yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ia tidak tertimpa ini (suatu jenis musibah, pen), dia pasti tertimpa ini (suatu jenis musibah, pen). Jika dia tidak tertimpa ini, dia pasti tertimpa ini’.” (HR. Al-Bukhari)

  • Nasehat Islam

    Kumpulan catatan pengajian yang diikuti penulis. Semoga memberi manfaat bagi yang membaca, penulis dan para guru/ustadz yang menyampaikan ilmunya. Berharap masukan jika ada yang perlu diperbaiki. ~Admal Syayid~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *